NURANIMEDIA.ID — Juni 2026 menjadi momentum yang memperlihatkan retaknya narasi besar tentang perubahan yang dijanjikan Presiden Prabowo Subianto. Alih-alih menikmati stabilitas ekonomi dan pemerintahan yang bersih seperti yang diharapkan banyak pemilih, masyarakat justru dihadapkan pada kenyataan yang semakin berat: rupiah terpuruk, pasar saham anjlok, harga BBM naik, kebutuhan pokok semakin mahal, dan sejumlah pejabat negara terseret kasus korupsi.
Bagi sebagian masyarakat, rentetan peristiwa ini menjadi simbol kegagalan awal pemerintahan Prabowo dalam mengelola ekonomi, menjaga integritas pemerintahan, dan memenuhi harapan rakyat.
Rupiah Rp18.000 per Dolar, Simbol Rapuhnya Kepercayaan Pasar
Salah satu ukuran paling nyata untuk menilai kesehatan ekonomi sebuah negara adalah stabilitas nilai tukar mata uangnya. Ketika rupiah menembus angka Rp18.000 per dolar AS, pemerintah tidak bisa lagi sekadar menyalahkan faktor global.













