Oleh Abdul Holik, MA
Bagus Muljadi tidak menduga bahwa kegelisahannya di koridor Royal School of Mines, Imperial College London, akan melahirkan sebuah karya sebesar ini.
Ia menyaksikan para peneliti Barat mengkaji sampel batuan dari Nusantara dengan penuh ketelitian. Namun narasi ilmu pengetahuan tetap berkiblat ke Barat. Pertanyaan itu terus mengusiknya: mengapa leluhur kita tidak punya suara dalam ilmu yang datanya justru berasal dari tanah mereka sendiri?
Kegelisahan itulah yang kemudian menjelma menjadi Ensiklopedia Ki Sunda — atau Ensiklopedia Epistemologi Sunda. Proyek ambisius ini melibatkan pakar dari Universitas Nottingham, ITB, UI, Monash, para filolog, dan sejarawan dalam satu kolaborasi multidisipliner yang jarang terjadi. Dengan dukungan BP2D Provinsi Jawa Barat dan dorongan politik Dedi Mulyadi, ensiklopedia ini hadir dalam tiga jilid besar yang masing-masing membongkar satu lapisan peradaban Sunda.
Jilid I: Alam yang Lebih Tua dari Sains Modern
Jilid pertama mengangkat tema alam dan tata ruang Tatar Sunda. Di sini, para peneliti menemukan sesuatu yang mengejutkan: naskah kuno Warugan Lemah ternyata bukan panduan mistis semata, melainkan sistem tata ruang yang terbukti akurat secara ilmiah.















