Oleh: Abdul Holik, MA
Sebagian orang dibentuk oleh tempat kelahirannya. Sebagian lainnya ditempa oleh perjalanan hidup yang memaksanya terus berpindah. Bagi Benny Rhamdani, kehidupan adalah rangkaian perpindahan yang tanpa henti. Ia berpindah dari satu kota ke kota lain, dari satu lingkungan ke lingkungan berikutnya, dari dunia aktivisme menuju panggung kekuasaan nasional.
Lahir di Bandung pada 3 Maret 1968, Benny tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya seorang prajurit TNI berpangkat rendah yang harus mengikuti berbagai penugasan di sejumlah daerah. Kondisi itu membuat keluarga mereka kerap berpindah tempat tinggal. Dalam tradisi militer, anak-anak yang tumbuh mengikuti perpindahan dinas orang tuanya dikenal sebagai “anak kolong”.
Kehidupan sebagai anak kolong bukanlah kehidupan yang mudah. Setiap perpindahan berarti harus meninggalkan teman, menyesuaikan diri dengan sekolah baru, memahami lingkungan baru, dan memulai kembali dari titik nol. Namun justru dari pengalaman itulah Benny belajar menghadapi perubahan dengan kepala tegak.
Sejak usia muda ia memahami bahwa hidup tidak selalu memberikan kenyamanan. Satu-satunya cara untuk bertahan adalah beradaptasi. Pengalaman tersebut membentuk daya tahan mental yang kelak menjadi ciri khas kepemimpinannya.
Disiplin militer yang ditanamkan sang ayah juga meninggalkan jejak mendalam. Bangun pagi, bekerja keras, menghargai waktu, dan tidak mudah menyerah menjadi prinsip yang terus ia pegang hingga dewasa. Nilai-nilai itu kemudian menjadi fondasi ketika ia menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dalam kehidupan publik.
Dari Pacet Menuju Talaud
Masa pendidikan dasar hingga SMP dijalani Benny di Pacet, Jawa Barat. Ia bersekolah di SDN 1 Pacet dan kemudian melanjutkan ke SMPN 1 Pacet. Namun masa remajanya menghadirkan sebuah titik balik yang mengubah arah hidupnya.
Keluarga memutuskan mengirim Benny ke Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, untuk tinggal bersama kerabat dari pihak ibunya. Keputusan itu awalnya dianggap sebagai langkah pembinaan bagi remaja yang sedang mencari jati diri. Namun justru di tanah perbatasan itulah cakrawala hidup Benny terbuka lebih luas.
Di Lirung, ibu kota Kepulauan Talaud yang menghadap langsung ke lautan Pasifik, ia menyelesaikan pendidikan di SMAN 1 Lirung. Jauh dari hiruk-pikuk kota besar, Benny mulai mengenal keragaman budaya, memahami dinamika masyarakat pesisir, dan menyerap semangat keterbukaan yang menjadi karakter Sulawesi Utara.
Apa yang semula tampak sebagai pengasingan berubah menjadi proses pendewasaan. Talaud bukan sekadar tempat sekolah, melainkan ruang pembentukan karakter yang memperluas cara pandangnya tentang Indonesia.
Menemukan Panggung di Kampus
Perjalanan berikutnya membawa Benny ke Manado. Tahun 1989 ia diterima di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi.
Kampus menjadi arena baru yang mempertemukannya dengan dunia gagasan, perdebatan, dan gerakan mahasiswa. Di lingkungan inilah naluri kepemimpinannya menemukan tempat untuk berkembang.
Benny aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), organisasi mahasiswa berhaluan nasionalis yang mengajarkan pemikiran Bung Karno tentang persatuan dan kedaulatan bangsa. Dari tingkat komisariat hingga kepengurusan kota, ia terus menapaki jenjang organisasi dengan penuh kesungguhan.
Menariknya, Benny tidak membatasi diri hanya pada satu lingkungan gerakan. Ia juga aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), organisasi yang memiliki basis pemikiran keislaman dan tradisi intelektual yang kuat.
Kemampuannya bergerak di dua organisasi dengan latar ideologi berbeda menunjukkan karakter yang kelak menjadi kekuatan politiknya: kemampuan membangun jembatan, merawat dialog, dan menjalin komunikasi lintas kelompok.
Menjadi Pemimpin Gerakan
Puncak kiprah organisasinya terlihat ketika ia dipercaya memimpin PMII Manado selama dua periode berturut-turut pada 1994–1999.

Kepercayaan itu lahir bukan karena popularitas semata, melainkan karena kapasitas kepemimpinannya. Di bawah arahannya, organisasi bergerak lebih dinamis. Diskusi tidak berhenti sebagai wacana, melainkan diterjemahkan menjadi aksi nyata.
Pada masa inilah gaya kepemimpinan Benny mulai terbentuk. Ia dikenal lugas, berani mengambil keputusan, dan lebih menyukai tindakan konkret dibanding retorika panjang.
Karakter tersebut terus melekat dalam setiap jabatan yang diembannya kemudian, baik sebagai legislator, pejabat negara, maupun pemimpin partai politik.
Membela Tanah dan Hak Rakyat
Setelah menyelesaikan pendidikan, Benny memilih jalur perjuangan yang tidak lazim. Alih-alih mengejar kenyamanan karier di sektor swasta, ia terjun mendampingi masyarakat yang menghadapi persoalan agraria.
Melalui Komite Perjuangan Pembaharuan Agraria (KPPA) Sulawesi Utara, yang dipimpinnya sejak 2003, Benny berada di garis depan memperjuangkan hak-hak petani yang kehilangan tanah akibat konflik lahan, ekspansi perkebunan, maupun proyek pembangunan.
Pengalaman itu memberinya pelajaran penting bahwa keadilan sosial bukan sekadar teori dalam buku, melainkan perjuangan nyata yang menyangkut kehidupan manusia sehari-hari.
Dari desa-desa dan ladang-ladang itulah reputasinya sebagai pembela rakyat kecil mulai tumbuh kuat.
Dua Dekade Mengabdi di Parlemen
Era Reformasi membuka babak baru dalam perjalanan politik Benny. Pada Pemilu 1999, ia terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara dari PDI Perjuangan.
Kepercayaan masyarakat tidak berhenti pada satu periode. Ia kembali terpilih hingga tiga periode berturut-turut dan mengabdi selama hampir lima belas tahun di parlemen daerah.
Perjalanan panjang itu memberinya pengalaman mendalam mengenai tata kelola pemerintahan, penyusunan kebijakan, serta dinamika hubungan antara rakyat dan negara.
Di mata banyak kalangan, Benny dikenal sebagai politisi yang tetap mempertahankan keberpihakannya kepada masyarakat meskipun telah lama berada dalam lingkaran kekuasaan.
Menembus Panggung Nasional
Tahun 2014 menjadi momentum penting ketika Benny melangkah ke tingkat nasional sebagai anggota DPD RI mewakili Sulawesi Utara.
Dengan dukungan puluhan ribu suara rakyat, ia membawa aspirasi daerah ke Senayan. Sebagai Wakil Ketua Komite I DPD RI, Benny banyak terlibat dalam isu pemerintahan daerah, otonomi daerah, dan hubungan pusat-daerah.
Pengalaman di tingkat nasional memperluas perspektifnya. Ia melihat secara langsung bagaimana kebijakan yang dibuat di pusat dapat menentukan nasib jutaan warga di daerah.
Memimpin BP2MI dan Melawan Sindikat Perdagangan Orang
Pada 15 April 2020, Presiden Joko Widodo menunjuk Benny Rhamdani sebagai Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI).
Jabatan tersebut menjadi salah satu panggung terbesar dalam kariernya. Benny mengubah wajah BP2MI dari sekadar lembaga administratif menjadi institusi yang aktif melindungi pekerja migran Indonesia.
Di bawah kepemimpinannya, BP2MI tampil agresif melawan sindikat penempatan ilegal dan jaringan perdagangan orang. Ribuan calon pekerja migran berhasil diselamatkan dari keberangkatan nonprosedural, sementara ratusan kasus hukum dilimpahkan kepada aparat penegak hukum.
Ia juga mendorong kebijakan pembebasan biaya penempatan bagi pekerja migran sektor domestik, sebuah langkah yang dinilai mampu mengurangi praktik eksploitasi dan jeratan utang yang selama ini membebani pekerja migran.
Pilar Penting Hanura
Di ranah politik, Benny menjadi salah satu figur sentral di Partai Hanura. Kedekatannya dengan Ketua Umum Hanura, Oesman Sapta Odang atau OSO, membawanya ke posisi strategis sebagai Sekretaris Jenderal partai.

Sebagai Sekjen, Benny dikenal sebagai penggerak mesin organisasi yang mampu menjembatani kepentingan pusat dan daerah. Kepercayaan yang terus diberikan kepadanya menunjukkan posisinya yang penting dalam menjaga konsolidasi dan arah perjuangan partai.
Tetap Berdiri di Tengah Kontroversi
Perjalanan Benny tidak selalu berjalan mulus. Sejumlah pernyataannya kerap memicu kontroversi dan perdebatan publik.
Namun satu hal yang konsisten adalah keberaniannya menyampaikan pandangan secara terbuka. Baik ketika berbicara tentang serangan hoaks terhadap pemerintah maupun saat mengungkap dugaan keterlibatan aktor besar dalam praktik judi online, Benny memilih berbicara ketika banyak orang memilih diam.
Sikap itu membuatnya dipuji sekaligus dikritik. Namun bagi Benny, keberanian menyampaikan kebenaran merupakan bagian dari tanggung jawab publik yang tidak bisa ditinggalkan.
Warisan Seorang Petarung
Perjalanan hidup Benny Rhamdani menunjukkan bagaimana seorang anak kolong dapat menembus panggung nasional melalui kerja keras, keberanian, dan kemampuan beradaptasi.
Dari barak militer sederhana, ruang diskusi mahasiswa, ladang-ladang perjuangan agraria, kursi legislatif, hingga memimpin lembaga negara, ia terus membawa satu keyakinan yang sama: keberpihakan kepada rakyat harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Warisan terbesarnya mungkin bukan jabatan yang pernah dipegang atau penghargaan yang pernah diterima, melainkan keberanian untuk berdiri di depan ketika banyak orang memilih menyingkir ke belakang.
Karena bagi Benny Rhamdani, diam bukanlah pilihan. Sejak menjadi anak kolong hingga menjadi tokoh nasional, hidupnya selalu bergerak dalam satu arah: melawan ketidakadilan dan memperjuangkan mereka yang suaranya sering kali tidak terdengar.












