Oleh Abdul Holik, MA
I. Seorang Arsitek di Panggung Politik Indonesia
Ada pemimpin yang hadir untuk memenangkan satu pertarungan. Ada pula yang hadir untuk membangun sesuatu yang jauh lebih besar—sebuah sistem, sebuah institusi, sebuah warisan. Patrice Rio Capella termasuk dalam kategori yang kedua. Di panggung politik Indonesia yang kerap bergolak, beliau berdiri bukan sekadar sebagai aktor elektoral, melainkan sebagai perancang organisasi. Seorang yang memiliki kemampuan langka untuk mengubah gagasan abstrak menjadi struktur kekuasaan yang hidup dan berakar.
Perjalanan itu bermula dari Bengkulu, kota yang tidak selalu menjadi pusat perhatian dalam peta politik nasional, tetapi justru di situlah Rio Capella mengasah intuisi dan ketangguhannya. Fondasi intelektualnya dibangun di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Dikampus dimana ia ditempa secara akademis, melainkan cara berpikir yang presisi: kemampuan merancang kerangka regulasi, hierarki organisasi, dan struktur kelembagaan dengan teliti. Dari Malang ke Bengkulu, dari ruang kuliah ke gelanggang politik, Rio Capella memulai sebuah perjalanan panjang yang pada akhirnya akan meninggalkan jejak nyata dalam sejarah kepartaian Indonesia.
II. Bara Aktivisme: Mahasiswa Malang, Pembela Kaum Marjinal
Sebelum mengenal jalan kekuasaan, Rio Capella lebih dulu mengenal jalan perlawanan. Masa studinya di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang, bukan sekadar perjalanan akademis, ia adalah penempaan jiwa seorang aktivis. Di kota pelajar yang bergolak pada era Orde Baru itulah, Rio Capella menemukan dirinya: bukan di ruang kelas semata, melainkan di tengah massa demonstran, di forum-forum diskusi, dan di barisan mereka yang berteriak untuk kaum yang tak bersuara.
Ia aktif dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Malang (FKMM), salah satu wadah gerakan mahasiswa yang paling vokal di era tersebut. Di kalangan aktivis demonstran senior angkatan 1990-an, nama Rio Capella bukan nama asing. Namun yang membedakannya bukan hanya keberaniannya turun ke jalan, melainkan kejelasan arah perjuangannya: ia berpihak pada mereka yang paling lemah.
Salah satu perjuangan yang paling dikenangnya adalah pembelaan terhadap petani Cimacan, Puncak, yang lahannya hendak dipaksa dialihfungsikan menjadi lapangan golf. Bersama rekan-rekan aktivis, Rio Capella bolak-balik ke gedung DPR, membawa suara petani yang tak punya akses ke lorong-lorong kekuasaan. Ini bukan aksi simbolis, ini adalah advokasi konkret yang menuntut keberanian dan ketekunan di tengah iklim politik yang represif.
Isu Kedung Ombo juga menjadi medan perjuangan yang tak kalah penting, di mana ia turut bersuara bersama gelombang mahasiswa yang menentang penggusuran massal akibat proyek bendungan kontroversial tersebut. Begitu pula dengan persoalan kawasan Buring di Malang, yang semakin mempertegas komitmennya pada isu-isu agraria dan hak rakyat atas tanah. Di berbagai forum diskusi dan seminar di Malang, Rio Capella kerap hadir sebagai narasumber, bukan saja sebagai demonstran, tetapi juga sebagai pemikir yang mampu mengurai masalah secara sistematis.
Yang membuat perjalanan aktivisme ini semakin berlapis adalah konteks personal yang menyertainya: ayah Rio Capella adalah Walikota Bengkulu saat itu. Seorang putra pejabat yang justru memilih berdiri di sisi rakyat jelata, menentang arus kekuasaan yang represif. Konsekuensinya tidak ringan. Markas Besar ABRI berkali-kali memberikan peringatan kepada sang ayah lantaran aktivitas anaknya yang dianggap bersinggungan dengan kepentingan kekuasaan tertinggi negara yaitu RI 1. Tekanan seperti itu, yang menembus ruang keluarga sekalipun, tidak menyurutkan langkah Rio Capella. Justru di situlah watak kepemimpinannya terbentuk: teguh di bawah tekanan, konsisten pada prinsip.
III. Mengakar di Bengkulu: Dari Aktivis Menuju Negarawan Daerah
Kembali ke Bengkulu setelah menyelesaikan studi di Universitas Brawijaya, Rio Capella segera membuktikan bahwa semangat aktivisme yang ia tempa di Malang bukan sekadar bara sesaat. Langkah pertamanya adalah memimpin Forum Kepemudaan: ia dipercaya menjadi Ketua KNPI Provinsi Bengkulu, lalu naik ke panggung nasional sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP KNPI di era Orde Baru. Di lingkaran KNPI nasional itu ia berinteraksi dengan figur-figur yang kelak menjadi tokoh penting republik—salah satunya Adhyaksa Dault yang menjabat Ketua KNPI DKI Jakarta sebelum kemudian menjadi Ketua Umum KNPI, dan dilanjutkan oleh Ariza Patria. Jaringan kepemudaan lintas daerah yang terbangun pada fase ini menjadi modal sosial yang tidak ternilai bagi langkah-langkah berikutnya.
Ambisi politiknya tumbuh lebih awal dari yang diduga banyak orang. Pada usia 27 tahun, ia berani melangkah ke arena legislatif sebagai calon anggota legislatif dari Golkar—menjadikannya salah satu caleg termuda yang pernah diusung partai beringin di Bengkulu. Meski kontestasi berlangsung dalam sistem yang jauh dari terbuka, keberanian itu mencerminkan kematangan berpolitik yang tidak lazim bagi seorang pemuda. Dua tahun berselang, pada usia 29 tahun, perjuangan itu menuai hasil nyata: Rio Capella duduk sebagai anggota DPRD dari PAN, menjadi salah satu legislator termuda di lembaga tersebut. Di sinilah ia pertama kali belajar mengubah aspirasi rakyat menjadi kebijakan.
Ketika semangat reformasi 1998 melahirkan Partai Amanat Nasional, Rio Capella adalah salah satu yang pertama bergerak membangun struktur PAN di Bengkulu. Dimulai dari posisi Bendahara DPW PAN Bengkulu (1999–2000), ia mengerjakan hal yang tidak glamor namun krusial: memastikan transparansi keuangan dan keberlangsungan logistik partai di masa-masa formatif yang penuh ketidakpastian. Kepercayaan itu terus tumbuh; ia kemudian memimpin DPW PAN Bengkulu sebagai Ketua, dan karir legislatifnya berlanjut sebagai Ketua Fraksi PAN (2002–2004) serta Wakil Ketua DPRD Provinsi Bengkulu (2004–2009)—dua jabatan yang menuntut kecakapan bernegosiasi, menjaga stabilitas koalisi, dan memastikan kepentingan konstituen terwakili dengan baik.
Di tingkat nasional, di bawah kepemimpinan Hatta Rajasa dan Zulkifli Hasan, karir Rio Capella di PAN terus menanjak hingga ia dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP PAN—posisi yang menempatkannya di jantung mesin partai tingkat nasional. Puncak dari fase ini adalah keberaniannya maju sebagai Calon Wakil Gubernur Bengkulu pada 2005, berpasangan dengan Muslihan. Pertarungan yang berlangsung ketat dengan selisih suara yang sangat tipis itu membuktikan bahwa Rio Capella adalah figur yang memiliki magnetisme politik riil di mata pemilih, bukan sekadar tokoh organisasi.
Namun ujian sesungguhnya datang pada Pemilu 2009. Perolehan suaranya yang signifikan untuk kursi DPR RI—yang seharusnya menjadi mahkota dari perjuangan panjang itu—terhalang oleh apa yang kemudian dikenal sebagai skandal mafia Pemilu: sebuah anomali elektoral yang mencoreng integritas proses demokrasi. Bagi banyak politisi, momen seperti itu menjadi titik akhir. Bagi Rio Capella, ini justru menjadi titik balik. Dari luka itulah keputusan terbesar dalam hidupnya lahir: meninggalkan PAN dan membangun kekuatan baru dari titik nol.
IV. Era NasDem: Membangun Partai dari Titik Nol
Jika Bengkulu adalah tempat Rio Capella belajar membangun, maka keputusannya meninggalkan PAN dan mendirikan NasDem adalah manifestasi dari pelajaran itu dalam skala yang jauh lebih besar. Meninggalkan partai yang telah membesarkannya bukan keputusan yang ringan tetapi bagi Rio Capella, ketika sistem sudah tidak bisa lagi diperbaiki dari dalam, maka harus ada yang berani membangun sistem baru dari luar.
Kemunculan NasDem sebagai kekuatan politik baru pada awal dekade 2010-an bukan sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Di balik narasi “Restorasi Indonesia” yang bergema, ada kerja keras institutionalisasi yang merentang dari Sabang hingga Merauke dan Rio Capella berada di jantung proses itu. Sebagai Ketua Umum pertama NasDem (2011–2013), ia tidak sekadar menjadi wajah partai; ia adalah arsitek utama yang menentukan bagaimana organisasi itu akan berdiri, berkembang, dan bertahan.
Masa jabatannya sebagai Ketua Umum ditandai oleh kesabaran manajerial yang luar biasa. Ia membangun identitas partai dari nol, merancang struktur hierarki, menetapkan standar tata kelola, dan memastikan setiap simpul organisasi di seluruh provinsi memiliki integritas struktural yang memadai. Ketika kepemimpinan partai kemudian bertransisi, Rio Capella bergeser ke posisi Sekretaris Jenderal (2013–2015), memastikan kesinambungan organisasi berjalan tanpa guncangan yang berarti.
Hasilnya berbicara lebih keras dari kata-kata manapun: di bawah orkestrasi strategis yang ia bangun, NasDem berhasil meningkatkan perolehan kursi secara dramatis dari 36 kursi menjadi 59 kursi di tingkat nasional. Lompatan itu adalah cerminan dari stabilitas manajerial yang ia jaga selama masa-masa paling rentan sebuah partai baru, serta bukti nyata bahwa kepemimpinan organisasional yang solid jauh lebih berharga daripada retorika semata.
V. Babak Baru di Hanura: Wakil Ketua Umum dan Misi Kebangkitan
Setiap perjalanan seorang negarawan melewati berbagai babak, dan setiap babak menuntut adaptasi. Ketika Partai Hanura membutuhkan figur yang memahami betul cara merevitalisasi organisasi yang mengalami stagnasi, pilihan jatuh pada seseorang yang telah terbukti: Patrice Rio Capella.
Kepercayaan itu diwujudkan dalam bentuk pengangkatannya sebagai Wakil Ketua Umum (Waketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Hanura. Ini bukan sekadar jabatan seremonial. Di level DPP, Rio Capella berada di pusat pengambilan keputusan strategis partai yaitu merumuskan arah kebijakan, mengkoordinasikan sumber daya lintas wilayah, dan menjadi penghubung antara visi kepemimpinan pusat dengan kebutuhan nyata di lapangan. Pengalaman panjangnya dalam membangun struktur dari bawah menjadi modal tak ternilai dalam peran ini, karena ia memahami bahwa kebijakan yang baik di atas kertas hanya bermakna jika mekanisme implementasinya di akar rumput benar-benar berjalan.
Peran sebagai Waketum ini juga mempertegas posisi Rio Capella dalam ekosistem politik nasional: ia bukan sekadar tokoh yang berlabuh di satu partai karena kesetiaan sempit, melainkan seorang profesional organisasi yang dibutuhkan justru karena kompetensinya melampaui batas-batas identitas partai tunggal. Dalam era politik yang semakin transaksional, kemampuan untuk tetap relevan berdasarkan keahlian adalah pencapaian tersendiri.
VI. Orkestrasi Jakarta: Plt Ketua DPD Hanura DKI
Dari pucuk DPP, tugas Rio Capella turun ke tataran yang lebih spesifik namun tidak kalah krusial: memimpin kebangkitan Hanura di Jakarta. Penugasannya sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD Partai Hanura DKI Jakarta pada tahun 2025 adalah manifestasi dari kepercayaan yang sudah lama dibangun—sebuah penugasan yang hanya bisa diberikan kepada seseorang yang rekam jejaknya sudah teruji.
Jakarta bukan wilayah sembarangan. Sebagai ibu kota, ia adalah arena paling kompetitif dalam politik Indonesia. Restrukturisasi partai di sini bukan sekadar soal mengganti pengurus; ia membutuhkan pendekatan yang sekaligus bersifat teknis, emosional, dan strategis.
Rio Capella memulai dari akar rumput: membangun kembali struktur dari tingkat Dewan Pimpinan Cabang (DPC) hingga ke kelurahan-kelurahan, memastikan mesin politik bekerja secara presisi di setiap kantong pemilih. Namun yang membedakan pendekatannya bukan hanya efisiensi birokratis—melainkan apa yang ia sebut sebagai “konsolidasi emosional”. Dengan filosofi “memungut yang tercecer dan menjemput yang tertinggal”, ia mendekati kader-kader potensial yang sempat menjauh dari partai, merangkul mereka kembali bukan sekadar sebagai anggota, melainkan sebagai bagian dari keluarga yang sama.
Target yang diusung tidak main-main: mengembalikan 10 kursi legislatif Hanura di DPRD DKI Jakarta. Angka itu membutuhkan mesin partai yang solid, kader yang termotivasi, dan strategi yang cermat.
VII. Warisan dan Signifikansi: Membaca Jejak Seorang Pembangun
Ketika sejarah mencatat tokoh-tokoh yang membentuk arsitektur politik Indonesia pasca-reformasi, nama Patrice Rio Capella layak berada di antara mereka, bukan karena satu kemenangan dramatis, melainkan karena konsistensi panjang dalam membangun institusi yang bermakna.
Ada tiga karakteristik yang paling menonjol dalam perjalanannya. Pertama, ketajaman strategis yang tidak pernah kehilangan orientasi pada realitasb dan kemampuan membangun partai dari fase rintisan hingga menjadi kekuatan parlemen yang diperhitungkan secara nasional. Kedua, resiliensi organisasional yang melampaui batas satu partai, kapasitas untuk tetap relevan dan dibutuhkan di berbagai struktur, karena kompetensi yang ia miliki bersifat universal bagi siapapun yang ingin membangun organisasi politik yang sehat. Ketiga, visi institusional yang menempatkan akar rumput bukan sebagai objek mobilisasi semata, melainkan sebagai fondasi legitimasi yang sesungguhnya.
Dari lorong-lorong diskusi mahasiswa Malang, dari barisan demonstran yang membela petani Cimacan, dari kursi Ketua KNPI Bengkulu dan Wasekjend DPP KNPI, dari DPW PAN Bengkulu hingga Wasekjend DPP PAN, ke kursi Wakil Ketua DPRD Provinsi, ke pucuk DPP NasDem, ke jantung DPP Hanura sebagai Wakil Ketua Umum, hingga ke lapangan pertarungan Jakarta—setiap babak dalam perjalanan Rio Capella adalah satu lagi bukti bahwa kepemimpinan yang sesungguhnya dibangun di atas pengabdian yang tulus, kompetensi yang terus diasah, dan kesediaan untuk turun ke tempat di mana pekerjaan yang paling berat menanti. (AH)














Kebersamaan para pimpinan harus bersama saling mengisi untuk satu tujuan untuk kembali duduk di Senayan