Example 728x250
Tokoh

Dr. (HC) Oesman Sapta, Sang Pengusaha Pejuang

×

Dr. (HC) Oesman Sapta, Sang Pengusaha Pejuang

Sebarkan artikel ini
Oso
Dr. (HC) Oesman Sapta, Tokoh Nasional Ketua Umum DPP Partai Hanura
Example 468x60
Oleh : Abdul Holik, MA

Ada satu nama yang perjalanan hidupnya sulit untuk tidak membuat kita berhenti sejenak dan merenung yaitu Dr. (HC) Oesman Sapta Odang. Atau lebih akrab dipanggil OSO.

Ia bukan produk sekolah elite, bukan pula anak pejabat yang terlahir dengan koneksi mewah. OSO adalah anak pelabuhan dalam arti yang paling harfiah. Ia pernah memikul barang di Pelabuhan Pontianak demi beberapa rupiah, berjualan rokok asongan di usia belia, dan tumbuh besar di tengah keterbatasan yang bagi banyak orang sudah cukup untuk menjadi alasan menyerah.

Namun hari ini, nama OSO terpatri dalam sejarah politik dan ekonomi Indonesia.

Lahir di Sukadana, Diasah oleh Kerasnya Hidup

OSO lahir pada 18 Agustus 1950 di Sukadana, Kalimantan Barat. Ayahnya, Odang, berasal dari Palopo, Sulawesi Selatan. Ibunya, Asnah Hamid, adalah perempuan berdarah Minang dari Sulit Air, Solok. Perpaduan darah dua tradisi yang sama-sama terkenal dengan semangat merantau dan berdagang.

Tapi takdir berkata lain lebih awal dari yang seharusnya. Saat OSO baru menginjak usia delapan tahun , sang ayah wafat. Ibunya, seorang penjahit, harus berjuang seorang diri menghidupi keluarga. OSO kecil tidak tinggal diam — ia turun tangan, berjualan rokok asongan di pelabuhan, hingga di usia 14 tahun sudah menjadi kuli pikul.

Konsekuensinya tak terelakkan: pendidikan formal OSO terputus-putus. Ia akhirnya menyelesaikan jenjang SMA melalui ijazah Paket C. Namun justru dari sinilah karakter otodidaknya terbentuk. Sebuah karakter yang kelak diakui dunia dengan penganugerahan gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Senior University International, Amerika Serikat, pada tahun 1999.

Membangun OSO Group dari Nol

Naluri bisnis OSO mulai menemukan jalurnya ketika ia beralih menjadi pedagang hasil pertanian, membawa produk-produk dari Kalimantan hingga ke pasar Jakarta. Di usia 22 tahun, ia sudah merambah dunia konstruksi di Kalimantan Barat.

Langkah demi langkah itu berujung pada berdirinya OSO Group. OSO Group adalah sebuah konglomerasi bisnis di bawah bendera PT Citra Putra Mandiri yang resmi terbentuk pada awal tahun 2000. Kini, OSO Group bergerak di enam sektor utama:

– Properti melalui PT Citra Putra Realty
– Jasa Keuangan melalui PT OSO Sekuritas Indonesia yang telah beroperasi lebih dari tiga dekade
– Transportasi dan logistik
– Pertambangan, termasuk PT Karimun Granite dan area tambang batubara seluas hampir 5.000 hektar di Berau, Kalimantan Timur
– Manufaktur dan percetakan
– Agribisnis, termasuk perkebunan kelapa sawit di bawah PT Aria Hijau Alam Lestari

Baca Juga  OSO, GEBU Minang, dan Jalan Kebudayaan Ekonomi Perantau

Keberhasilan ini mengantarkan OSO masuk dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia versi Globe Asia. Pada 2016, kekayaannya ditaksir mencapai US$ 350 juta atau setara Rp 5,17 triliun. Ia memilih mempercayakan roda operasional bisnisnya kepada para profesional, sementara putra-putrinya, termasuk Raja Sapta Oktohari, disiapkan menjadi generasi penerus.

Dari Pengusaha ke Negarawan: Panggilan Politik

Sebelum terjun ke politik formal, OSO telah membangun rekam jejak kepemimpinan organisasi yang panjang. Ia pernah menjabat Ketua HIPMI Kalimantan Barat, Ketua Kadin Provinsi Kalimantan Barat selama lebih dari dua dekade, hingga Ketua Umum HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) periode 2010–2017.

Karier politik OSO di panggung nasional dimulai pada 1999 ketika ia menjadi anggota MPR RI dari Fraksi Utusan Daerah mewakili Kalimantan Barat. Kepeduliannya terhadap nasib daerah yang kerap terpinggirkan dari pusat kebijakan mendorongnya, bersama sejumlah tokoh, mendirikan Partai Persatuan Daerah (PPD) pada 18 November 2002.

Pada Pemilu 2014, OSO memilih jalur independen dengan mencalonkan diri sebagai anggota DPD RI dari Kalimantan Barat. Ia meraih 188.528 suara dan kembali dipercaya sebagai Wakil Ketua MPR RI periode 2014–2019.

Amanah Ketua DPD dan Nahkoda Hanura

Tahun 2016–2017 menjadi babak paling monumental dalam karier politik OSO. Ketika Wiranto diangkat sebagai Menko Polhukam, kepemimpinan Partai Hanura diserahkan kepada OSO. Pada Munaslub Hanura, 22 Desember 2016, ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum DPP Partai Hanura. Di bawah tangannya, Hanura dibenahi dengan pendekatan manajemen modern berbasis prinsip Structure, System, Skill, Speed, dan Target.

Tak lama setelah itu, pada 4 April 2017, OSO kembali terpilih secara aklamasi — kali ini sebagai Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI). Jabatan paling bergengsi dalam representasi daerah di tingkat nasional.

Baca Juga  Anak Kolong yang Tak Pernah Diam: Jejak Panjang Benny Rhamdani dari Barak Militer ke Panggung Nasional

Kepemimpinannya tidak lepas dari ujian hukum. Putusan Mahkamah Konstitusi sempat mempersoalkan statusnya sebagai pengurus partai yang mencalonkan diri ke DPD. Namun OSO memenangkan gugatan di Mahkamah Agung dan PTUN, sebuah perjalanan hukum yang penuh dinamika.

Di Mata Jokowi: Tegas Tanpa Marah-Marah

Presiden Joko Widodo pernah mengungkapkan kekagumannya terhadap OSO. Ia menilai OSO sebagai pemimpin yang tegas namun tidak suka marah-marah — gaya kepemimpinan langka yang justru lebih efektif memenangkan hati rakyat. Kemampuan retorika OSO yang selalu hangat diterima khalayak menjadi nilai tersendiri di mata presiden.

Di internal Hanura, OSO dikenal membuka ruang luas bagi kader muda dan perempuan, dengan landasan moral yang sederhana namun kuat: kejujuran, pengabdian, dan hati nurani.

Dermawan dan Pencinta Olahraga

Di balik kesibukan yang tak pernah reda itu, OSO menyempatkan diri untuk memberi. Ia memprakarsai pembangunan Masjid Agung Oesman Al-Khair di Sukadana, Kayong Utara, dan turut berkontribusi pada pembangunan Masjid Raya Mujahidin di Pontianak.

Dalam bidang olahraga, ia mendirikan OSO Sport Center di Bekasi yang diresmikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2011. Pusat olahraga seluas satu hektar ini hadir bukan sekadar untuk prestasi, melainkan sebagai ruang bagi generasi muda agar tumbuh sehat dan jauh dari jerat narkoba. Di dalamnya terdapat dojo karate Kushin Ryu yang diakui sebagai salah satu yang terbesar di dunia.

Warisan yang Terus Dibangun

Atas jasa-jasanya kepada bangsa, Presiden Jokowi menganugerahi OSO Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama pada 13 Agustus 2020. Dan pada Munas di Bali, ia kembali terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Hanura periode 2024–2029.

Kisah OSO bukan sekadar kisah sukses seorang pebisnis. Ia adalah kisah tentang kegigihan seorang anak bangsa yang menolak dikalahkan oleh keadaan, yang menjadikan keterbatasan sebagai bahan bakar, dan yang memilih untuk terus mengabdi bahkan setelah memiliki segalanya.

Dari kuli pelabuhan Pontianak, hingga kursi pimpinan DPD RI, perjalanan Oesman Sapta Odang adalah bukti nyata bahwa Indonesia masih menjadi negeri di mana tekad dan integritas bisa membawa seseorang sejauh yang ia berani bermimpi.

 

(Redaksi MediaNurani.id | Kolom Tokoh)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *