Oleh Abdul Holik, MA
Sabtu pagi (30/5/2026) Aula Balai Kota Bandung terasa berbeda. Ruangan riuh bukan oleh rapat dinas, melainkan oleh bunyi talempong, langkah-langkah silek, dan carano berisi sirih yang disuguhkan dengan penuh hormat. Sejenak, Bandung terasa seperti punya sedikit jiwa Minangkabau.
Acara hari itu adalah pengukuhan kepengurusan DPD Gebu Minang Jawa Barat periode 2026–2031. Pengukuhan dipimpin Ketua Umum Gerakan Ekonomi dan Budaya Minangkabau bapak Oesman Sapta Odang yang kerap disapa OSO.
Bagi yang belum mengenal Gebu Minang, mungkin acara seperti ini terlihat seperti arisan besar kaum perantau. Tapi kalau mau dicermati, ada sesuatu yang lebih serius di baliknya.
Coba perhatikan nama organisasinya dulu. Gerakan Ekonomi dan Budaya Minangkabau. Dua kata itu tidak disusun secara kebetulan. OSO menempatkannya sejajar, bukan hierarkis. Bukan budaya dulu, lalu ekonomi. Atau sebaliknya. Keduanya satu napas.














