Oleh Abdul Holik, M.A. Dosen dan Direktur Eksekutif West Java Instute
Islam Wiwitan menjadi salah satu gagasan yang paling banyak diperbincangkan setelah Dedi Mulyadi atau KDM menjelaskan hubungan antara syariat Islam, budaya Sunda, dan etika lingkungan dalam berbagai kesempatan publik.
Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan sederhana: bolehkah seseorang menjadi Muslim yang sungguh-sungguh tanpa harus berhenti menjadi dirinya sendiri?
Di banyak tempat tumbuh sebuah asumsi bahwa semakin seseorang tampak “Arab”, semakin ia dianggap Islami. Cara berpakaian, pilihan simbol, hingga gaya berbahasa perlahan bergerak ke arah yang sama. Bukan karena ada dalil yang mewajibkan, melainkan karena logika peniruan bekerja secara halus. Lama-kelamaan, sesuatu yang semula merupakan pilihan berubah menjadi seolah-olah sebuah keharusan.
Di titik inilah Kang Dedi Mulyadi (KDM) memilih berdiri di jalur yang berbeda.











