Example 728x250
Opini

Islam Wiwitan: Membaca Gagasan KDM tentang Islam dan Budaya Sunda

×

Islam Wiwitan: Membaca Gagasan KDM tentang Islam dan Budaya Sunda

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Apakah seorang Muslim yang mengenakan pangsi dan berdoa dalam bahasa Sunda otomatis lebih rendah kualitas keimanannya dibanding mereka yang memilih jubah dan surban?

Jika jawabannya tidak, maka sesungguhnya kita telah memasuki ruang dialog yang ingin dibangun KDM.

Yang membuat pemikiran KDM menarik bukan hanya pandangannya mengenai hubungan agama dan budaya. Ada fondasi yang lebih personal dan lebih mendasar, yakni nilai-nilai hidup yang menjadi kompas moralnya.

Ia menghidupkan kembali filosofi Sunda seperti silih asih, silih asah, dan silih asuh. Seorang pemimpin, menurutnya, tidak hanya bertugas mengajar rakyat, tetapi juga belajar dari rakyat. Kekuasaan bukan alat untuk meninggikan diri, melainkan sarana untuk melindungi mereka yang paling rentan.

Ada pula satu prinsip yang sederhana tetapi sangat relevan dengan situasi hari ini:

Hirup Teu Kudu Ngalangkungkeun Batur — hidup tidak harus melampaui orang lain.

Di tengah budaya kompetisi yang sering memuja kemewahan, popularitas, dan akumulasi kekuasaan, prinsip tersebut terasa seperti bentuk perlawanan yang sunyi. Ia mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari seberapa tinggi seseorang berdiri di atas orang lain, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada sesama.

Pada akhirnya, Islam Wiwitan bukanlah tentang satu tokoh bernama Dedi Mulyadi.

Ia merupakan cermin dari pergulatan panjang yang telah berlangsung selama berabad-abad di Nusantara. Pergulatan yang sama pernah dihadapi para wali ketika memilih wayang sebagai media dakwah. Pergulatan yang sama juga hadir ketika para ulama menulis kitab dalam bahasa Jawa, Sunda, dan Melayu agar Islam dapat dipahami oleh masyarakat setempat.

READ  Ketika Dana Desa Beralih ke Kopdes, Masih Mampukah Desa Membangun?

Pertanyaan yang muncul dari masa ke masa sesungguhnya tetap sama: bagaimana agama dan budaya lokal dapat hidup berdampingan tanpa saling meniadakan?

Bagaimana keduanya dapat saling memperkuat, bukan saling mencurigai?

KDM mungkin tidak memiliki jawaban final atas pertanyaan itu. Namun ia telah menunjukkan satu pilihan jalan: bahwa akar tidak harus dicabut agar pohon dapat tumbuh tinggi.

Bahwa menjadi Sunda dan menjadi Muslim bukanlah dua identitas yang harus dipertentangkan.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *