Sejumlah akademisi kemudian menyebut pendekatan ini sebagai Islam Wiwitan.
Penting ditegaskan bahwa Islam Wiwitan bukan agama baru, bukan aliran baru, dan bukan pula bentuk sinkretisme yang mencampuradukkan akidah. Istilah tersebut lebih tepat dipahami sebagai konstruksi konseptual untuk menggambarkan cara berislam yang tetap berpegang pada syariat, namun tidak tercerabut dari akar budaya Sunda.
Dengan kata lain, Islam Wiwitan adalah upaya memadukan kesetiaan kepada agama dengan penghormatan terhadap warisan budaya lokal.
Namun, menempuh jalan seperti ini tentu tidak tanpa konsekuensi.
Ketika berbagai gagasan kebudayaan diperkenalkan di Purwakarta, kritik datang dari berbagai arah. Patung-patung pewayangan di ruang publik dituduh membuka ruang bagi kemusyrikan. Gapura bambu dianggap meniru budaya tertentu. Bahkan kain kotak-kotak yang diikatkan pada pohon dipersepsikan sebagai simbol ritual agama lain.











