Example 728x250
OpiniPolitik

Mendongkrak Elektoral Partai Hanura di Tengah Krisis Kepercayaan terhadap Presiden Prabowo dengan Menjagokan Lebih Awal Figur Pemimpin Masa Depan Menuju Pilpres 2029

×

Mendongkrak Elektoral Partai Hanura di Tengah Krisis Kepercayaan terhadap Presiden Prabowo dengan Menjagokan Lebih Awal Figur Pemimpin Masa Depan Menuju Pilpres 2029

Sebarkan artikel ini
Uf
Ujang Fahpulwaton Dewan Penasehat DPP Hanura
Example 468x60
Oleh: Ujang Fahpulwaton
Dewan Penasehat DPP Partai Hanura

NURANIMEDIA.ID — Dinamika politik nasional belakangan ini bergerak sangat cepat dan cenderung mengkhawatirkan. Berbagai demonstrasi yang berisi ketidakpuasan dan penolakan terhadap sejumlah kebijakan Presiden Prabowo Subianto terus bermunculan. Beberapa kebijakan yang menuai pro dan kontra antara lain kebijakan luar negeri Indonesia, termasuk keputusan bergabung dengan Board Of Peace (BOP) yang dipersepsikan sebagian kalangan sebagai perubahan arah politik luar negeri Indonesia.

Selain itu, penolakan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga terjadi di Jakarta maupun berbagai daerah lain. Bahkan, telah diajukan permohonan uji materi (judicial review) ke Mahkamah Konstitusi agar program tersebut dihentikan. Di sisi lain, berbagai pernyataan kontroversial Presiden maupun sejumlah pembantunya, seperti ucapan “ndasmu”, “emang gue pikirin”, hingga pernyataan bahwa masyarakat desa tidak terpengaruh oleh kenaikan nilai dolar, turut memicu polemik di ruang publik.

Berbagai bentuk ketidakpuasan masyarakat tersebut sesungguhnya menjadi peluang politik bagi partai-partai yang berada di luar Koalisi Indonesia Maju atau Kabinet Merah Putih, termasuk Partai Hanura. Jika tingkat ketidakpuasan publik terus meningkat, kondisi tersebut berpotensi menjadi beban politik bagi Prabowo apabila kembali mencalonkan diri pada Pilpres 2029. Bahkan, apabila pemilu dilaksanakan dalam kondisi tingkat kepuasan publik yang terus menurun, peluang kemenangan petahana tentu akan semakin berat.

Dalam konteks itulah, posisi Hanura sebagai partai yang tidak berada dalam lingkaran kekuasaan menjadi modal politik yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan elektoral partai. Salah satu strategi yang layak dipertimbangkan adalah berani lebih awal mengusung figur calon pemimpin nasional yang masih memiliki basis dukungan kuat di akar rumput pasca-Pilpres 2024.

Beberapa nama yang dapat dipertimbangkan antara lain Anies Rasyid Baswedan maupun Mahfud MD. Namun, menurut saya, Anies Baswedan memiliki peluang yang lebih besar karena hingga hari ini loyalitas pendukungnya masih sangat kuat. Basis relawan dan simpatisannya tetap solid, bahkan mampu menjadi kekuatan politik yang diperhitungkan.

Baca Juga  Hanura Gelar Bimtek Nasional DPRD di Pontianak, Bahas Penguatan Legislator dan Persiapan Pemilu 2029

Fakta tersebut terlihat dalam Pilkada DKI Jakarta. Ketika sebagian besar partai koalisi mendukung pasangan yang dianggap paling kuat, PDIP bersama Hanura justru mampu memenangkan kontestasi dengan dukungan Anies Baswedan. Padahal, selama ini PKS dikenal sebagai partai yang memiliki basis suara kuat di Jakarta. Salah satu faktor yang dinilai memengaruhi hasil tersebut adalah kekecewaan sebagian kader dan simpatisan PKS setelah DPP PKS tidak kembali mengusung Anies sebagai calon gubernur.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa Anies masih memiliki daya tarik politik yang signifikan. Oleh karena itu, Hanura memiliki peluang untuk mengambil langkah lebih awal dalam menentukan arah politik menuju Pilpres 2029. Menentukan figur capres sejak dini dapat menjadi strategi untuk mendongkrak elektoral partai sekaligus memperluas basis dukungan masyarakat.

Saya mengusulkan Anies Baswedan bukan karena merupakan pendukungnya, melainkan berdasarkan pembacaan terhadap realitas politik. Basis pendukung Anies masih relatif loyal. Modal sekitar 24 persen suara pada Pilpres 2024 menunjukkan bahwa ia tetap memiliki ceruk pemilih yang potensial. Pengalaman PKB yang memperoleh keuntungan elektoral setelah mengusung pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar juga menjadi contoh bahwa efek ekor jas (coattail effect) dari figur capres dapat meningkatkan suara partai.

Melihat Ceruk Suara Anies

Jika dicermati dari Pilpres 2024 maupun pengalaman Pilkada DKI Jakarta 2017, setidaknya terdapat beberapa kelompok pemilih utama Anies Baswedan.

1. Segmen Agama dan Nilai (Santri Urban)

Kelompok ini terdiri dari masyarakat Muslim perkotaan, jamaah majelis taklim, kalangan kampus Islam, hingga komunitas pengajian.

Mereka tertarik kepada Anies karena:

  • Memiliki gaya komunikasi yang santun, religius, dan menguasai referensi keislaman.
  • Mengangkat narasi keadilan sosial dan keberpihakan kepada masyarakat.
  • Dipersepsikan sebagai figur yang membela kepentingan umat sejak Pilkada DKI Jakarta 2017.
  • Menjadi basis pendukung yang paling loyal hingga saat ini.
Baca Juga  Hendri Purnomo Kembali Pimpin DPC Hanura Kota Banjar, Bidik Fraksi Penuh di DPRD

2. Segmen Kelas Menengah Terdidik (Urban Skeptis)

Kelompok ini terdiri atas mahasiswa, dosen, profesional, dan pekerja kantoran berusia 25–45 tahun.

Mereka menilai Anies sebagai figur yang:

  • Mampu menyampaikan gagasan secara sistematis dan berbasis data.
  • Memiliki citra intelektual serta dianggap kritis terhadap oligarki dan politik dinasti.
  • Didukung jaringan relawan digital yang kuat di media sosial seperti X dan TikTok.
  • Memiliki rekam jejak di bidang pendidikan sebagai mantan Menteri Pendidikan dan Rektor Universitas Paramadina.

3. Segmen Pemilih Perubahan (Change Voters)

Kelompok ini didominasi generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial yang menginginkan perubahan.

Mereka melihat Anies sebagai simbol alternatif terhadap status quo dengan mengusung narasi besar tentang perubahan.

Kesimpulan

Melihat berbagai ceruk pemilih tersebut, saya berpendapat bahwa Anies Baswedan masih memiliki potensi besar menjadi salah satu kandidat kuat pada Pilpres 2029. Momentum menurunnya tingkat kepercayaan sebagian masyarakat terhadap pemerintah seharusnya menjadi kesempatan bagi Hanura untuk membangun positioning politik yang lebih jelas.

Tanpa figur nasional yang mampu menjadi magnet elektoral, Hanura akan menghadapi tantangan berat untuk meningkatkan perolehan suara dan kembali lolos ke DPR RI. Sebaliknya, apabila sejak sekarang Hanura berani mengambil langkah politik dengan membangun komunikasi dan lobi kepada Anies Baswedan beserta lingkaran terdekatnya, serta menyatakan kesiapan menjadi partai yang lebih awal mendukung pencalonannya pada Pilpres 2029, maka peluang Hanura memperoleh efek elektoral akan jauh lebih besar.

Pada akhirnya, tujuan utama strategi tersebut bukan hanya memenangkan kontestasi Pilpres, tetapi juga memastikan Partai Hanura mampu kembali memperoleh kepercayaan masyarakat dan lolos ke Senayan pada Pemilu 2029.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *