Ada pula satu prinsip yang sederhana tetapi sangat relevan dengan situasi hari ini:
Hirup Teu Kudu Ngalangkungkeun Batur — hidup tidak harus melampaui orang lain.
Di tengah budaya kompetisi yang sering memuja kemewahan, popularitas, dan akumulasi kekuasaan, prinsip tersebut terasa seperti bentuk perlawanan yang sunyi. Ia mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari seberapa tinggi seseorang berdiri di atas orang lain, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada sesama.
Pada akhirnya, Islam Wiwitan bukanlah tentang satu tokoh bernama Dedi Mulyadi.
Ia merupakan cermin dari pergulatan panjang yang telah berlangsung selama berabad-abad di Nusantara. Pergulatan yang sama pernah dihadapi para wali ketika memilih wayang sebagai media dakwah. Pergulatan yang sama juga hadir ketika para ulama menulis kitab dalam bahasa Jawa, Sunda, dan Melayu agar Islam dapat dipahami oleh masyarakat setempat.











