Apakah setiap ekspresi budaya lokal yang berbeda dari budaya Arab harus selalu dicurigai?
Apakah patung Gatotkaca di alun-alun kota dapat disamakan dengan berhala yang disembah?
Apakah seorang Muslim yang mengenakan pangsi dan berdoa dalam bahasa Sunda otomatis lebih rendah kualitas keimanannya dibanding mereka yang memilih jubah dan surban?
Jika jawabannya tidak, maka sesungguhnya kita telah memasuki ruang dialog yang ingin dibangun KDM.
Yang membuat pemikiran KDM menarik bukan hanya pandangannya mengenai hubungan agama dan budaya. Ada fondasi yang lebih personal dan lebih mendasar, yakni nilai-nilai hidup yang menjadi kompas moralnya.
Ia menghidupkan kembali filosofi Sunda seperti silih asih, silih asah, dan silih asuh. Seorang pemimpin, menurutnya, tidak hanya bertugas mengajar rakyat, tetapi juga belajar dari rakyat. Kekuasaan bukan alat untuk meninggikan diri, melainkan sarana untuk melindungi mereka yang paling rentan.











