Example 728x250
Opini

Islam Wiwitan: Membaca Gagasan KDM tentang Islam dan Budaya Sunda

×

Islam Wiwitan: Membaca Gagasan KDM tentang Islam dan Budaya Sunda

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Sejumlah akademisi kemudian menyebut pendekatan ini sebagai Islam Wiwitan.

Penting ditegaskan bahwa Islam Wiwitan bukan agama baru, bukan aliran baru, dan bukan pula bentuk sinkretisme yang mencampuradukkan akidah. Istilah tersebut lebih tepat dipahami sebagai konstruksi konseptual untuk menggambarkan cara berislam yang tetap berpegang pada syariat, namun tidak tercerabut dari akar budaya Sunda.

Dengan kata lain, Islam Wiwitan adalah upaya memadukan kesetiaan kepada agama dengan penghormatan terhadap warisan budaya lokal.

Namun, menempuh jalan seperti ini tentu tidak tanpa konsekuensi.

Ketika berbagai gagasan kebudayaan diperkenalkan di Purwakarta, kritik datang dari berbagai arah. Patung-patung pewayangan di ruang publik dituduh membuka ruang bagi kemusyrikan. Gapura bambu dianggap meniru budaya tertentu. Bahkan kain kotak-kotak yang diikatkan pada pohon dipersepsikan sebagai simbol ritual agama lain.

Sejumlah kelompok menilai berbagai simbol tersebut berpotensi mengaburkan batas-batas akidah.

KDM memilih menghadapi kritik itu secara terbuka. Menurutnya, patung merupakan ekspresi seni dan bagian dari sejarah peradaban, bukan objek pemujaan. Seni, dalam pandangannya, membantu masyarakat mengingat jati dirinya, memahami asal-usulnya, dan menentukan arah masa depannya.

Bagi KDM, kebudayaan bukan pesaing agama. Kebudayaan adalah wadah tempat nilai-nilai agama menemukan konteks sosialnya.

Meski demikian, saya tidak ingin tergesa-gesa memihak salah satu posisi.

Kekhawatiran tentang batas antara pelestarian budaya dan pengaburan akidah adalah kekhawatiran yang sah. Sejarah menunjukkan bahwa sinkretisme memang dapat berkembang secara perlahan melalui hal-hal yang tampak sederhana. Karena itu, menjaga kemurnian akidah merupakan tanggung jawab penting dalam tradisi Islam.

READ  Ketika Dana Desa Beralih ke Kopdes, Masih Mampukah Desa Membangun?

Namun, pada saat yang sama, kita juga perlu mengajukan pertanyaan yang lain.

Apakah setiap ekspresi budaya lokal yang berbeda dari budaya Arab harus selalu dicurigai?

Apakah patung Gatotkaca di alun-alun kota dapat disamakan dengan berhala yang disembah?

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *