Abdul Holik, MA* | Alumni CRCS UGM
Di Tanah Sunda, Idul Adha sering disebut Rayagung. Di belahan dunia Islam yang lain, pada tanggal 18 Dzulhijjah atau sepuluh hari setelah Idul Adha sekelompok umat Islam memperingati apa yang mereka sebut al-‘Id al-A’zham: hari raya terbesar. Dua nama, dua tradisi, dua jalan yang berbeda. Namun keduanya berbagi satu kata yang sama: agung.
Keunikan orang Sunda dalam menamakan hari raya cukup menarik. Idul Fitri mereka sebut Lebaran. Lebaran berasal dari kata lebar, lapang, terbuka. Idul Adha mereka sebut Rayagung. Bukan sekadar terjemahan, melainkan sebuah penafsiran kultural yang sudah berlangsung berabad-abad. Rayagung bukan hanya nama. Ia adalah cara masyarakat Sunda memaknai bahwa di antara semua hari raya, ada satu yang dianggap paling besar, paling agung.
Pertanyaan dari mana keyakinan itu berasal? Mengapa Idul Adha, dan bukan Idul Fitri yang mendapat predikat “agung” dalam tradisi Sunda?
Sebagian ulama menunjuk pada hadis yang menyatakan bahwa hari paling utama dalam setahun adalah hari Arafah dan hari nahr atau hari penyembelihan kurban pada 10 Dzulhijjah. Ada pula yang mengaitkannya dengan kedudukan haji sebagai rukun Islam kelima, yang puncaknya jatuh pada hari-hari itu. Namun ada lapisan sejarah lain yang sering luput dari percakapan bahwa kata “rayagung” bukan milik satu tradisi Islam semata.
Dalam khazanah Islam Syiah, hari raya 18 Dzulhijjah disebut Idul Ghadir yang diberi gelar al-‘Id al-A’zham, hari raya terbesar. Perayaan ini memperingati peristiwa Ghadir Khum, ketika Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan pulang dari Haji Wada’ menghentikan rombongan besar sahabat di sebuah oasis antara Makkah dan Madinah.
















