Menurut riwayat yang diakui oleh berbagai sumber sejarah Islam di oasis tersebut Nabi mengucapkan kalimat yang kemudian menjadi sumbu perdebatan teologis terpanjang dalam sejarah umat: Man kuntu maulahu fa ‘Aliyyun maulahu (barang siapa menjadikan aku maulanya, maka Ali adalah maulanya).
Bagi komunitas Syiah, kalimat itu adalah penunjukan resmi Ali bin Abi Thalib sebagai penerus kepemimpinan umat. Bagi mayoritas ulama Sunni, ia adalah pernyataan penghormatan dan kecintaan, bukan suksesi politik. Dari perbedaan tafsir atas satu kata itulah, mula-mula dua tradisi besar Islam terbentuk dan berkembang selama empat belas abad.
Secara historis Islam masuk ke Nusantara bukan melalui satu pintu dan satu mazhab. Para pedagang, ulama, dan peziarah yang membawa agama ini ke pesisir Jawa, Sunda, Sumatera, dan Kalimantan datang dari berbagai penjuru dunia Islam. Mereka datang dari Gujarat, Hadramaut, Persia, dan jazirah Arab sendiri yang membawa corak tradisi berbeda-beda.
Sejumlah sejarawan mencatat bahwa pengaruh tradisi Syiah dan Ahlul Bait cukup kuat pada fase-fase awal Islamisasi Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam pertama di pesisir utara Jawa memiliki kedekatan dengan jaringan ulama yang berafiliasi dengan tradisi kecintaan kepada Ahlul Bait. Beberapa gelar dan simbol kerajaan Nusantara mengandung jejak penghormatan kepada keluarga Nabi yang tidak selalu bisa dijelaskan oleh tradisi Sunni arus utama semata.
Apakah predikat “agung” yang melekat pada Idul Adha dalam tradisi Sunda merupakan jejak samar dari pengaruh tradisi yang juga menyebut hari raya terbesarnya sebagai al-A’zham? Tidak ada bukti langsung yang dapat dikonfirmasi.
















