Sebagian ulama menunjuk pada hadis yang menyatakan bahwa hari paling utama dalam setahun adalah hari Arafah dan hari nahr atau hari penyembelihan kurban pada 10 Dzulhijjah. Ada pula yang mengaitkannya dengan kedudukan haji sebagai rukun Islam kelima, yang puncaknya jatuh pada hari-hari itu. Namun ada lapisan sejarah lain yang sering luput dari percakapan bahwa kata “rayagung” bukan milik satu tradisi Islam semata.
Dalam khazanah Islam Syiah, hari raya 18 Dzulhijjah disebut Idul Ghadir yang diberi gelar al-‘Id al-A’zham, hari raya terbesar. Perayaan ini memperingati peristiwa Ghadir Khum, ketika Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan pulang dari Haji Wada’ menghentikan rombongan besar sahabat di sebuah oasis antara Makkah dan Madinah.
Menurut riwayat yang diakui oleh berbagai sumber sejarah Islam di oasis tersebut Nabi mengucapkan kalimat yang kemudian menjadi sumbu perdebatan teologis terpanjang dalam sejarah umat: Man kuntu maulahu fa ‘Aliyyun maulahu (barang siapa menjadikan aku maulanya, maka Ali adalah maulanya).











