Example 728x250
Opini

Rayagung, Ghadir, dan Ingatan yang Tidak Pernah Pergi

×

Rayagung, Ghadir, dan Ingatan yang Tidak Pernah Pergi

Sebarkan artikel ini
Abdul holik
Abdul Holik, Ketua KMNU dan Direktur Eksekutif WJI
Example 468x60

Hal yang lebih pasti adalah bahwa kata “agung” dalam berbagai bentuknya memiliki fungsi yang serupa di banyak tradisi: ia menandai yang paling sakral, yang paling bermakna, yang paling layak dirayakan dengan sungguh-sungguh. Bahwa orang Sunda menggunakan kata itu untuk Idul Adha, dan bahwa komunitas Syiah di seluruh dunia menggunakannya untuk Idul Ghadir, adalah dua ekspresi dari satu kecenderungan manusiawi yang universal yaitu kebutuhan untuk memberi nama pada yang dianggap paling besar.

Di Indonesia hari ini, komunitas Syiah adalah minoritas kecil yang tersebar di berbagai kota, hidup dalam jalinan sosial yang lebih luas bersama mayoritas Muslim Sunni. Peringatan Idul Ghadir mereka berlangsung dalam majelis-majelis yang lebih bersifat internal, jauh dari hiruk pikuk publik. Namun ia ada. Dan keberadaannya adalah bagian dari peta keberagaman Islam Indonesia yang selama ini lebih sering disederhanakan daripada dipahami.

Rayagung dan Ghadir bukan dua hal yang sama. Keduanya lahir dari tradisi yang berbeda, dengan landasan teologi yang tidak identik. Tetapi dalam kata “agung” yang mereka bagi, ada sesuatu yang mengingatkan kita pada fakta sederhana namun sering terlupakan bahwa umat Islam selalu memiliki lebih dari satu cara untuk menyatakan bahwa ada hari-hari yang lebih besar dari hari-hari biasa; dan bahwa pilihan hari mana yang dianggap terbesar itu sendiri adalah cermin dari sejarah panjang yang belum selesai dibaca.

READ  Menjiwai Pancasila

 

*Abdul Holik, MA adalah penulis dan pemerhati sejarah Islam Nusantara, tradisi keagamaan, dan media digital.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *