Pertanyaan yang muncul dari masa ke masa sesungguhnya tetap sama: bagaimana agama dan budaya lokal dapat hidup berdampingan tanpa saling meniadakan?
Bagaimana keduanya dapat saling memperkuat, bukan saling mencurigai?
KDM mungkin tidak memiliki jawaban final atas pertanyaan itu. Namun ia telah menunjukkan satu pilihan jalan: bahwa akar tidak harus dicabut agar pohon dapat tumbuh tinggi.
Bahwa menjadi Sunda dan menjadi Muslim bukanlah dua identitas yang harus dipertentangkan.
Dan mungkin, di situlah percakapan penting tentang Islam Indonesia terus menemukan relevansinya.











