Dan itu memang mencerminkan cara OSO berpikir sejak memimpin Gebu Minang mulai 2016. Ia tidak ingin organisasi ini sekadar jadi wadah kangen-kangenan antar perantau. OSO menjadikan Gebu Minang sebagai ruang konsolidasi kekuatan ekonomi masyarakat Minang yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, bahkan ke luar negeri.
Kenapa itu masuk akal? Karena modal sosial masyarakat Minangkabau sebetulnya luar biasa besar. Tradisi merantau sudah berlangsung berabad-abad, Merantau bukan hanya soal pindah kota, di dalamnya ada nilai-nilai yang sangat konkret: keberanian keluar dari zona nyaman, kemauan kerja keras, kemampuan membaca peluang, dan semangat membangun.
Nilai-nilai itulah yang melahirkan begitu banyak pengusaha, profesional, dan tokoh publik berlatar Minang yang tersebar di hampir setiap kota besar Indonesia. Hebatnya, di tangan OSO, jaringan itu diorganisasi lebih serius. Kini Gebu Minang bukan hanya tempat silaturahmi, tapi juga penguatan UMKM, jejaring bisnis, pemberdayaan pengusaha muda, dan peningkatan kualitas SDM.











