NURANIMEDIA.ID, Jakarta – Nilai tukar dollar AS yang semakin mendekati level Rp18.000 memicu lonjakan transaksi di sejumlah money changer. Masyarakat, investor, hingga pelaku usaha ramai memburu informasi pergerakan kurs di tengah pelemahan rupiah yang terus berlanjut.
Sepanjang pekan terakhir, rupiah mengalami tekanan signifikan. Pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026, rupiah berada di level Rp17.880 per dollar AS, melemah dibanding posisi awal pekan di kisaran Rp17.744 per dollar AS.
Kondisi tersebut mendorong peningkatan aktivitas penukaran valuta asing, terutama dollar AS. Namun menariknya, sebagian besar transaksi justru berasal dari pemilik dollar yang memanfaatkan kenaikan kurs untuk mengonversi aset mereka ke rupiah.
Staf PT Daffa Indo Valuta, Aris, mengatakan trafik transaksi meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir seiring penguatan dollar AS dan menjelang musim liburan.
“Untuk minggu terakhir trafiknya menanjak karena kurs dollar naik. Banyak pemilik dollar yang memilih menjual valasnya untuk mengambil keuntungan,” ujarnya.
Meski demikian, tidak sedikit investor yang memilih menahan kepemilikan dollar AS. Mereka meyakini kurs masih berpotensi naik dan menembus level psikologis Rp18.000 dalam waktu dekat.
Rupiah Melemah, Dollar AS Jadi Aset Favorit
Fenomena ini menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap aset berbasis dollar AS ketika nilai tukar rupiah berada dalam tren melemah.
















