NURANIMEDIA.ID, Bandung – Nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi itu memicu kekhawatiran kenaikan harga bahan pokok.
Pada Mei 2026, rupiah sempat menyentuh Rp17.600 per dolar AS. Pelemahan kurs meningkatkan biaya impor pangan.
Ekonom menilai kondisi itu memicu imported inflation. Harga barang naik karena biaya impor semakin mahal.
Kedelai menjadi komoditas paling rentan. Indonesia masih bergantung pada pasokan impor untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Produsen tahu dan tempe mulai merasakan kenaikan biaya produksi. Sebagian pelaku usaha mempertimbangkan menaikkan harga jual.
Sebagian produsen juga mengurangi ukuran produk. Langkah itu menjaga margin keuntungan di tengah kenaikan biaya.
Gandum ikut terkena tekanan. Indonesia masih mengimpor hampir seluruh kebutuhan gandum nasional.










