Krisis ekonomi mudah dilihat. Harga beras tiba-tiba dua kali lipat. Orang antre panjang di bank karena takut tabungannya hilang. Pabrik-pabrik berhenti beroperasi. Kita pernah merasakannya pada 1998, dan lukanya masih membekas hingga hari ini.
Krisis kepercayaan berbeda. Ia datang seperti air yang merembes perlahan dari retakan dinding. Awalnya tidak terasa, tapi lambat laun menggerus fondasi dari dalam. Investor mulai berpikir dua kali. Pengusaha menunda ekspansi. Warga biasa mulai menyimpan dolar sebagai jaga-jaga. Semua itu terjadi sebelum krisis yang sesungguhnya tiba.
Kita sering bertanya: mengapa rupiah melemah? Jawabannya bukan semata karena dolar Amerika menguat atau karena perang di Timur Tengah. Riset Prof. Telisa Aulia Falianty menunjukkan bahwa faktor global hanya berkontribusi sekitar 5 persen terhadap pelemahan rupiah. Lebih dari 60 persen berasal dari dalam negeri sendiri, yaitu dari defisit anggaran yang terus melebar, dari persoalan independensi Bank Indonesia, dari ketidakpastian arah kebijakan pemerintah.
Sederhana saja: kalau kita meminjam uang dari seseorang, ia akan lebih mudah meminjamkan jika ia percaya kita bisa mengelola uang itu dengan baik dan membayarnya tepat waktu. Begitu pula dengan negara. Investor bersedia menaruh uangnya di Indonesia kalau mereka percaya bahwa Indonesia dikelola dengan disiplin, transparan, dan dapat diprediksi. Ketika kepercayaan itu goyah, uang pun pergi.
Prof. Didin S. Damanhuri mengibaratkan kondisi saat ini sebagai lampu kuning. bukan lampu merah, tapi juga bukan lampu hijau. Masih ada waktu. Tapi waktu itu tidak panjang dan tidak akan menunggu.
Lalu apa yang harus dilakukan?
Menurut para ahli ekonomi dalam forum tersebut solusinya sederhana: pemerintah harus membuktikan bahwa ia layak dipercaya. Bukan dengan pidato, bukan dengan janji. Tetapi dengan tindakan nyata yang bisa dilihat, diukur, dan dirasakan.
Anggaran negara harus dikelola dengan jujur dan disiplin. Bank Indonesia harus diizinkan bekerja secara merdeka, tidak tunduk pada tekanan apapun. Kebijakan yang dibuat hari ini harus konsisten dengan yang diucapkan kemarin. Ketika ada masalah, katakan apa adanya karena kejujuran yang menyakitkan jauh lebih bisa dipercaya daripada optimisme yang kosong.














