BANDUNG — Perubahan teknologi digital dinilai telah mengubah cara generasi muda memperoleh informasi, berkomunikasi, hingga memandang persoalan sosial dan kebangsaan. Di tengah derasnya arus informasi tersebut, nasionalisme dinilai tidak cukup hanya diwujudkan melalui simbol dan seremoni, tetapi harus hadir dalam perilaku dan kontribusi nyata.
Persoalan itu menjadi salah satu pembahasan dalam Diskusi Kebangsaan bertajuk “Merdeka di Era Digital: Merawat Nasionalisme dan Kepedulian Generasi Muda” yang digelar DPD Partai HANURA Jawa Barat di Sekretariat DPD HANURA Jabar, Kota Bandung, Kamis, 13 Agustus 2026.
Kegiatan yang digelar menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu dihadiri Ketua DPD Partai HANURA Jawa Barat H. Dian Rahadian, S.H., M.H., Sekretaris DPD HANURA Jawa Barat Cecep Lukmanul Hakim, jajaran pengurus harian DPD, serta perwakilan dari sejumlah perguruan tinggi di Kota Bandung.
Lima narasumber hadir dengan perspektif berbeda, yakni Hidayat Sjarief, Nowo Suryanto, Fadel Atallah, Ratu Lola, dan Budi Hermansyah.
Pembahasan tidak hanya berkutat pada makna kemerdekaan dan nasionalisme, tetapi juga menyentuh Pancasila, kemandirian ekonomi, perkembangan teknologi, serta perubahan karakter generasi muda.
Hidayat Sjarief menekankan pentingnya menjadikan Pancasila sebagai nilai yang hidup dalam keseharian. Menurut dia, Pancasila tidak seharusnya berhenti sebagai hafalan maupun simbol kenegaraan.
Nilai kemanusiaan, persatuan, gotong royong, musyawarah, dan keadilan sosial, kata dia, harus tetap menjadi pedoman masyarakat, termasuk dalam menggunakan media sosial dan berinteraksi di ruang digital.
Sementara itu, Nowo Suryanto mengangkat persoalan kemandirian ekonomi melalui penguatan koperasi. Perkembangan ekonomi digital dinilai membuka peluang besar bagi generasi muda untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga menjadi pelaku usaha dan penggerak ekonomi masyarakat.
Gen Z
Perspektif Generasi Z disampaikan Fadel Atallah. Generasi yang tumbuh bersama internet dan media sosial tersebut dinilai memiliki cara yang berbeda dalam memperoleh informasi, membangun identitas, berkomunikasi, serta memahami kehidupan sosial dan politik.
Karena itu, generasi muda perlu diberikan ruang untuk menjadi produsen gagasan, kreator, inovator, dan bagian dari proses kehidupan kebangsaan.
“Generasi muda jangan hanya menjadi pengguna teknologi dan konsumen informasi. Mereka harus memiliki ruang untuk menciptakan gagasan dan ikut menentukan masa depan,” menjadi salah satu pokok pemikiran yang mengemuka dalam diskusi.
Perspektif berbeda disampaikan Ratu Lola yang mewakili generasi Milenial. Berbeda dengan Gen Z yang sejak awal tumbuh dalam ekosistem digital, Milenial mengalami masa peralihan dari kehidupan analog menuju digital.
Pengalaman tersebut dinilai penting untuk membaca perubahan pola kerja, kehidupan sosial, komunikasi, dan partisipasi politik yang terjadi dalam dua generasi tersebut.
Adapun Budi Hermansyah mengajak peserta melihat kembali perjalanan sejarah nasionalisme Indonesia. Nasionalisme Indonesia tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang dibangun dari kesadaran untuk bersatu dan memperjuangkan kehidupan bersama sebagai sebuah bangsa.
Tantangan baru
Diskusi juga menyoroti munculnya tantangan baru dalam kehidupan kebangsaan akibat perkembangan teknologi digital.
Jika dahulu perjuangan mempertahankan kemerdekaan banyak berhadapan dengan ancaman fisik, kini masyarakat menghadapi persoalan berupa disinformasi, hoaks, polarisasi, manipulasi informasi, budaya viral, krisis perhatian, hingga fragmentasi sosial yang dapat diperkuat oleh algoritma media digital.
Kondisi tersebut membuat kemampuan berpikir kritis dan etika digital menjadi semakin penting.
Generasi muda tidak cukup hanya memiliki kemampuan menggunakan teknologi. Mereka juga harus mampu memilah informasi, menghargai perbedaan, menjaga ruang publik digital, serta mengubah keresahan sosial menjadi gagasan dan tindakan.
Dalam diskusi tersebut, nasionalisme kemudian ditempatkan dalam pengertian yang lebih praktis.
Nasionalisme bukan sekadar tentang seberapa besar seseorang mengaku mencintai Indonesia, tetapi seberapa besar kontribusi yang dapat diberikan untuk Indonesia.
Pendidik yang mencerdaskan masyarakat, pengusaha yang membuka lapangan pekerjaan, peneliti yang menghasilkan inovasi, maupun anak muda yang menjaga ruang digital dari hoaks dinilai sama-sama dapat menjadi bentuk nasionalisme.
Bukan hanya pemilu
Ketua DPD HANURA Jawa Barat H. Dian Rahadian mengapresiasi terselenggaranya forum tersebut. Menurutnya, dialog lintas generasi diperlukan untuk membaca persoalan kebangsaan yang terus berubah.
Sementara Sekretaris DPD HANURA Jawa Barat Cecep Lukmanul Hakim menekankan pentingnya partai politik membangun ruang pendidikan dan dialog bagi generasi muda.
Partai politik, menurutnya, tidak semestinya hanya hadir ketika membutuhkan dukungan suara dalam pemilu. Partai juga harus mampu menjadi ruang pendidikan politik, kaderisasi, produksi gagasan, dan partisipasi masyarakat.
Diskusi kebangsaan tersebut menjadi bagian dari upaya DPD HANURA Jawa Barat membangun komunikasi lintas generasi dan memperluas ruang dialog dengan kalangan akademisi serta perguruan tinggi.
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI pun diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Kemerdekaan harus menjadi momentum untuk menjawab persoalan baru yang muncul di tengah masyarakat.
Di era digital, kemerdekaan pada akhirnya bukan hanya tentang bebas dari penjajahan, tetapi juga merdeka berpikir, merdeka menentukan pilihan, merdeka menciptakan masa depan, dan merdeka memberikan manfaat bagi Indonesia.















