“Pedagang ingin masyarakat tahu kondisi di lapangan. Harga dari bandar dan pemotong terus naik,” katanya.
Muslim menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS ikut memperburuk situasi. Sebagian besar sapi yang beredar di pasar berasal dari impor Australia dan Selandia Baru.
“Mayoritas daging berasal dari sapi impor jenis Brahman Cross. Ketika dolar naik, biaya impor ikut melonjak,” ujarnya.
Nilai tukar rupiah pada Minggu, 17 Mei 2026, tercatat menyentuh Rp17.602 per dolar AS. Kondisi itu berdampak langsung pada biaya pengadaan sapi impor dan harga jual di pasar tradisional.
Pedagang berharap pemerintah segera mengambil langkah stabilisasi agar harga daging kembali terkendali dan daya beli masyarakat tidak terus menurun.















