“Harga kebutuhan pokok naik, biaya sekolah anak naik, sekarang BBM juga naik cukup tinggi. Kami tidak dapat bantuan, tapi pengeluaran terus bertambah,” katanya.
Sebagian pelanggan mengaku mulai mempertimbangkan untuk beralih menggunakan Pertalite guna menghemat pengeluaran. Namun, mereka juga khawatir langkah tersebut dapat meningkatkan antrean di SPBU dan memperbesar beban subsidi pemerintah.
“Kalau selisihnya sampai lebih dari Rp6.000 per liter, pasti banyak yang berpikir pindah ke Pertalite. Tapi kalau semua pindah, apakah stoknya cukup?” ujar Andri (42), seorang pengemudi kendaraan roda empat.
Di sisi lain, terdapat pula masyarakat yang memahami alasan pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Mereka menilai kenaikan tersebut merupakan konsekuensi dari kondisi ekonomi global dan fluktuasi harga minyak dunia.
















