“Kalau memang Pertamax mengikuti harga pasar dan subsidi difokuskan untuk masyarakat yang membutuhkan, mungkin memang harus seperti ini. Tapi pemerintah juga harus memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga,” kata Yusuf (45).
Pengamat ekonomi menilai reaksi masyarakat menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak pada biaya transportasi, tetapi juga memengaruhi psikologis konsumen terhadap kondisi ekonomi secara umum. Kekhawatiran terhadap potensi kenaikan harga barang dan jasa lainnya turut menjadi perhatian masyarakat.
Sementara itu, PT Pertamina Patra Niaga menyatakan penyesuaian harga Pertamax dilakukan sesuai formula harga BBM nonsubsidi yang ditetapkan pemerintah dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah.
Meski Pertalite dan Biosolar subsidi masih dipertahankan pada harga sebelumnya, kenaikan Pertamax menjadi Rp16.250 per liter diperkirakan tetap akan memberikan tekanan terhadap pengeluaran masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah yang selama ini menjadi pengguna utama BBM nonsubsidi.
















