Selain mengangkat pasar saham, sentimen positif tersebut turut memperkuat posisi rupiah. Berdasarkan data per 15 Juni, nilai tukar rupiah menguat ke level Rp17.690 per dolar AS. Angka ini menunjukkan apresiasi sekitar 2,74 persen dibanding posisi terlemahnya pada awal pekan sebelumnya yang sempat menyentuh Rp18.190 per dolar AS.
Penguatan rupiah dan reli pasar saham mencerminkan berkurangnya tekanan global yang selama ini dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah. Investor mulai kembali memburu aset berisiko, termasuk instrumen investasi di negara berkembang seperti Indonesia.
Analis menilai stabilitas kawasan Timur Tengah memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian global karena wilayah tersebut menjadi pusat produksi dan distribusi energi dunia. Dengan kembali normalnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, risiko gangguan pasokan minyak dapat ditekan sehingga memberikan kepastian lebih besar bagi pasar.
















