Manajemen PMMP mengungkapkan bahwa perusahaan saat ini mengalami keterbatasan modal kerja dan membutuhkan tambahan pendanaan sekitar US$15 juta untuk mendukung kegiatan operasional.
Kondisi tersebut membuat perusahaan hanya mengoperasikan satu fasilitas produksi di Situbondo. Untuk tetap memenuhi permintaan pasar ekspor, perseroan menerapkan skema pembelian produk jadi dari perusahaan lain dengan pembayaran dilakukan setelah hasil ekspor diterima.
Tekanan terhadap operasional perusahaan juga berdampak pada efisiensi tenaga kerja. Sejak 2024 hingga pertengahan 2026, PMMP telah mengurangi puluhan karyawan melalui pemutusan hubungan kerja, sementara puluhan staf lainnya tercatat mengundurkan diri.
Dalam dokumen keterbukaan informasi tersebut, PT Harapan Bangsa Kita, perusahaan milik Kaesang Pangarep, tercatat memiliki 188,24 juta saham atau sekitar 7,27 persen dari total saham PMMP.
Hingga kini belum ada keterangan lebih lanjut mengenai proses restrukturisasi yang diajukan kepada para kreditur maupun perkembangan persetujuan dari pihak perbankan.















