Oleh: Ujang Fahpulwaton Anggota Dewan Penasehat DPP Partai Hanura
NURANIMEDIA.ID — Politik adalah seni, termasuk seni mengelola dan mempertemukan berbagai kepentingan. Dalam beberapa waktu terakhir, dinamika politik nasional mulai menghangat seiring berkembangnya informasi di berbagai media mainstream maupun media sosial mengenai wacana kompromi politik sejumlah partai koalisi untuk menaikkan parliamentary threshold (PT) dari 4% menjadi 5% pada Pemilu Legislatif 2029.
Meskipun pada akhirnya dua partai di parlemen menyatakan bahwa informasi tersebut tidak benar, wacana kenaikan PT menjadi 5% sudah terlanjur berkembang di kalangan partai politik maupun masyarakat. Hal ini kemudian memunculkan berbagai pembahasan, baik yang mendukung maupun yang menolak wacana tersebut.
Bagi partai-partai besar dan partai yang telah memiliki basis kuat di parlemen, kenaikan PT menjadi 5% tentu bukan persoalan sederhana, tetapi mereka relatif memiliki modal politik yang lebih besar. Mereka memiliki anggota legislatif di berbagai tingkatan, struktur organisasi yang lebih mapan, serta basis pemilih yang telah terbentuk.
Namun, bagi partai-partai menengah, kecil, maupun partai nonparlemen, kenaikan PT menjadi 5% merupakan tantangan yang sangat serius. Kondisi tersebut membutuhkan kerja keras, kerja cerdas, strategi yang terukur, serta konsolidasi yang jauh lebih kuat agar mampu memenuhi ambang batas tersebut.
Kondisi ini tentu menjadi tantangan besar karena menyangkut keberlanjutan sebuah partai politik untuk tetap eksis atau justru tersingkir dari kontestasi pemilu legislatif. Hasil Pemilu 2029 akan menjadi salah satu penentu penting bagi keberadaan dan masa depan partai-partai politik dalam sistem demokrasi Indonesia.
Untuk itu, dengan mencermati kondisi dan wacana kenaikan PT menjadi 5% yang terus berkembang, Partai Hanura harus segera menyikapinya secara serius, terukur, dan strategis. Partai perlu mempersiapkan figur-figur nasional maupun daerah yang dapat menjadi bagian dari keluarga besar Partai Hanura, sekaligus memiliki basis dan ceruk pemilih yang loyal.
Langkah tersebut penting agar Hanura mampu menghadapi tantangan PT 5% dan tetap eksis dalam kontestasi politik nasional. Targetnya bukan hanya mempertahankan keberadaan partai, tetapi juga memastikan kader-kader Hanura dapat kembali mengisi lembaga legislatif di semua tingkatan, baik pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota pada Pemilu 2029.
Karena itu, diperlukan diskusi yang serius dan terbuka untuk membedah bersama strategi partai kecil dan nonparlemen dalam menghadapi tantangan politik menuju Pemilu 2029, khususnya dalam upaya menembus parlemen dan memperoleh dukungan suara yang signifikan.
Langkah Strategis yang Perlu Dipersiapkan
Beberapa langkah yang perlu segera dilakukan antara lain:
1. Memperkuat konsolidasi dan koordinasi organisasi
Konsolidasi dan koordinasi harus dilakukan secara optimal, maksimal, dan terukur. Penguatan struktur partai perlu dipersiapkan mulai dari tingkat DPP, DPD, DPC, DPAC, hingga DPRT. Setiap tingkatan organisasi harus memiliki target, program kerja, serta indikator keberhasilan yang jelas dan dapat dievaluasi secara berkala.
2. Memperkuat basis di daerah
Daerah-daerah yang saat ini memiliki anggota legislatif Hanura harus menjadi salah satu prioritas penguatan basis. Para anggota dewan dan kader harus terus turun ke masyarakat, berbaur, mendengar aspirasi, serta menunjukkan bahwa Hanura hadir dan bekerja bersama masyarakat.
Keberadaan kader di tengah masyarakat harus menjadi kekuatan politik yang nyata, bukan hanya menjelang pemilu. Hubungan dengan masyarakat harus dibangun secara berkelanjutan sehingga terbentuk kepercayaan dan basis dukungan yang kuat.
3. Mempersiapkan calon legislatif secara lebih awal dan selektif
Partai perlu mulai mempersiapkan figur-figur calon anggota legislatif dari berbagai daerah pemilihan, baik untuk DPR RI, DPRD provinsi, maupun DPRD kabupaten/kota.
Figur yang diprioritaskan hendaknya memiliki kesiapan, jaringan, rekam jejak sosial, serta basis dukungan di daerahnya masing-masing. Karena itu, proses pencalonan perlu mempertimbangkan kekuatan dan potensi setiap daerah, bukan semata-mata mengandalkan calon yang diturunkan dari pusat.
Penempatan calon dari DPP tetap dapat dilakukan sebagai bagian dari strategi organisasi, tetapi harus mempertimbangkan kriteria dan kebutuhan politik di masing-masing daerah agar calon yang diusung benar-benar memiliki peluang membangun basis dukungan.
4. Menentukan figur atau tokoh nasional yang memiliki dampak elektoral
Partai juga perlu menentukan figur atau tokoh nasional yang akan menjadi bagian dari strategi politik Hanura menuju Pemilu 2029.
Figur tersebut idealnya memiliki kapasitas, popularitas, jaringan, serta daya jangkau politik yang dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan citra dan dukungan elektoral Partai Hanura.
Membangun Hanura yang Solid dan Siap Bertarung
Wacana kenaikan parliamentary threshold menjadi 5% harus dilihat bukan semata-mata sebagai ancaman, tetapi juga sebagai momentum untuk melakukan pembenahan dan penguatan internal partai.
Hanura perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kekuatan dan kelemahannya, mulai dari struktur organisasi, kaderisasi, basis pemilih, calon legislatif, komunikasi politik, hingga strategi pemenangan di setiap daerah pemilihan.
Jika konsolidasi dilakukan sejak jauh hari, dengan strategi yang terukur dan melibatkan seluruh elemen partai, maka Hanura akan memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri menghadapi Pemilu 2029.
Soliditas organisasi, kekuatan kader, kedekatan dengan masyarakat, serta kemampuan membaca peta politik di setiap daerah harus menjadi modal utama.
Pada akhirnya, tantangan menuju Pemilu 2029 tidak cukup dijawab dengan wacana. Diperlukan kerja nyata, konsistensi, keberanian melakukan evaluasi, serta kesungguhan seluruh jajaran Partai Hanura untuk membangun kembali kekuatan politik dari bawah.
Hanura harus hadir, Hanura harus solid, dan Hanura harus siap menghadapi setiap tantangan politik menuju Pemilu 2029.













