Penulis: Ir. Irfan Suryanagara
NURANIMEDIA.ID — Sejarah alam dan sejarah politik ada kalanya berjalan di atas siklus yang sama. Ketenangan yang menipu kerap kali menyimpan energi destruktif yang luar biasa. Letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 dikenang dunia sebagai salah satu bencana paling kolosal dalam sejarah modern. Suaranya terdengar hingga ribuan kilometer, dan abunya menggelapkan atmosfer bumi. Saat ini, publik dikejutkan dan diliputi rasa cemas oleh aktivitas Anak Gunung Krakatau yang kembali erupsi. Ketakutan massal melanda seolah-olah bencana dahsyat tahun 1883 akan terulang kembali. Namun, di balik kepanikan terhadap Anak Gunung Krakatau, banyak pihak—khususnya para pengamat dan pelaku dinamika politik—lupa melirik sejarah geologis yang jauh lebih megah sekaligus mengerikan di Tanah Sunda, yakni dahsyatnya letusan Gunung Sunda Purba.
Secara ilmiah, letusan Krakatau masih kalah masif dibanding letusan Gunung Sunda Purba ratusan ribu tahun lalu. Letusan purba tersebut memuntahkan material vulkanik dalam skala super-kolosal, meruntuhkan tubuh gunungnya sendiri, dan membentuk kaldera raksasa yang hari ini kita kenal sebagai cekungan tempat Kota Bandung berada. Letusan Anak Krakatau memang menakutkan akhir-akhir ini, tetapi tanah tempat kita berpijak di Jawa Barat sebenarnya lahir dari rahim bencana purba yang jauh lebih dahsyat.
Antara Gejala Erupsi Gunung Berapi dan Erupsi Partai Politik yang Sering Diabaikan
Anak Gunung Krakatau berdiri melayang di tengah Selat Sunda dengan ukuran yang tak seberapa dibanding sang induk yang pernah mengguncang dunia pada tahun 1883. Ukurannya kerap membuat orang acuh dan memandangnya sepele. Namun, siapa pun yang memahami karakter geologi akan paham betul bahwa di balik tubuhnya yang terbilang kecil, tersimpan akumulasi energi magma yang siap meledak kapan saja dengan daya hancur yang dahsyat.
Dari kejadian letusan anak gunung krakatau belakangan ini, kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang sangat berharga. Sebagai pegiat partai, setidaknya saya bisa melihat ada kesamaan gejala atau tanda-tanda antara anak gunung Krakatau dan partai politik ketika mau terjadi erupsi. Setidaknya ada tiga fase tanda-tanda erupsi, yang jika dianalogikan ke dalam tata kelola partai bisa kita lihat kondisinya saat ini. Semoga hal ini bisa jadi alarm pengingat bagi para pemangku kebijakan yang mengelola partai di Jawa Barat agar jika menemukan atau mengalami gejala serupa bisa dilakukan tindakan mitigasi sebelum gejalanya lebih parah dan menimbulkan kerugian. Adapun fase-fase dan analogi dimaksud yang saya lihat diantaranya:
Pertama: Fase Getaran Gempa Vulkanik.
Di dasar selat Sunda, sebelum ledakan anak gunung krakatau terjadi, magma berkumpul menciptakan tekanan ekstrem yang tak terlihat di permukaan. Akibat tekanan magma ke atas tersebut menimbulkan getaran-getaran yang ditangkap sebagai gempa vulkanik. Kejadian ini seringkali diwaspadai sebagai tanda-tanda awal akan terjadinya erupsi.
Jika peristiwa getaran gempa vulkanik tersebut dianalogikan pada kondisi partai politik, maka bentuk konkrit yang terjadi adalah berupa keluhan atau pun protest dari simpatisan, loyalis, kader tingkat bawah atas berbagai kebijakan partai. Selain itu bisa juga berbagai konfik internal yang terjadi pada pengurus partai baik di tingkat pusat maupun daerah, bahkan sampai tingkatan terendah/terkecil. Sinyal ini seharusnya menjadi pertanda, bahwa kondisi partai sedang tidak baik-baik saja. Getaran san suara sumbang dari kader di bawah seharusnya direspon untuk ditangani secara cepat, cermat dan tepat. Pembiaran pertanda ini oleh pemangku kebijakan partai akan berdampak pada retaknya soliditas dan loyalitas di berbagai tingkatan struktur partai dan akar rumput.
Dalam dunia politik, gesekan di tingkat akar rumput, ketidakpuasan kader daerah, hingga gejolak struktur internal sering kali dianggap sepele, sekadar “letupan kecil” yang tak berarti. Padahal hal ini ibarat getaran gempa yang memberi tanda/sinyal bahwa kondisi sedang tidak baik-baik saja. Ada hal yang perlu segera direspon dan kebijakan yang harus diputuskan dengan cermat, tepat dan bijak. Dalam konteks Jawa Barat, Ketika Pengurus Partai Tingkat Pusat tidak faham kondisi di daerah, keliru memilih figur pemimpin daerah provinsi yang seharusnya cocok, malah menetapkan figur yang dinilai banyak kalangan gagal, tidak memiliki akar kultural/ kearifan lokal yang kuat, minim rekam jejak konsolidasi yang merangkul, atau cenderung represif dimana organisasi dikelola dengan salah urus dan salah tata kelola (mengabaikan meritokrasi dan komunikasi politik yang sehat), salah mengatur dan salah memimpin (mengambil keputusan strategis berdasarkan selera elit, bukan realitas lapangan), sikap arogan dan sombong (merasa paling kuat dan menyepelekan masukan dari struktur di bawahnya), maka hal itu akan terakumulasi menjadi kekecewaan persis seperti tekanan magma di perut bumi yang menimbulkan retakan secara masif.
Begitu pun ketika pimpinan yang dipilih bertindak jumawa, selalu merasa di atas angin, melihat yang lain lebih rendah dan masalah yang kerap muncul dianggap sepele, maka dengan melihat gejala itu sebenarnya ia sedang membunyikan alarm dengan menumpuk potensi ledakan konflik politik yang kian hari kian membesar serta menciptakan retakan-retakan di tingkat struktur dan kader.
Di bawah kepemimpinan yang salah, gejolak internal akan terus memanas. Kader-kader senior yang berdarah-darah membangun partai disingkirkan dengan semua gerbongnya, sementara restrukturisasi hanya didasari oleh loyalitas buta, bukan kapabilitas. Kanal-kanal komunikasi internal tersumbat, menimbulkan resistensi dari struktur pimpinan daerah di kabupaten/kota hingga ranting di akar rumput. Ketidakpuasan yang dipendam ini ibarat tekanan magma yang terus menumpuk di bawah pijakan partai yang sewaktu-waktu bisa meledak mengakibatkan kehancuran.
Kedua: Fase Hembusan Asap Hitam dari Gas Vulkanik
Munculnya fase gas vulkanik adalah tahapan di mana gas-gas yang terlarut di dalam magma—atau gas dari air tanah yang dipanaskan oleh magma—terlepas dan mendesak keluar ke permukaan bumi. Pada peritiwa ini terjadi penurunan tekanan (dekompresi), yakni ketika magma mulai bergerak naik dari perut bumi menuju permukaan, tekanan dari batuan di sekitarnya berkurang drastis. Pelepasan Gas sama halnya seperti saat kita membuka botol minuman bersoda yang dikocok, gas-gas yang tadinya terlarut rapat di dalam cairan magma (seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur) langsung memuai, membentuk gelembung besar, dan mendesak keluar mencari celah. Namun gas vulkanik inilah bertindak sebagai tenaga pendorong utama bagi letusan eksplosif.
Analogi pada fase peristiwa ini, kita dapat melihat tanda bahwa ada penurunan simpati publik sehingga timbul keengganan berpartisipasi karena kekecewaan akibat kebijakan partai yang dipandang tidak memperhatikan aspirasi mereka. Dalam konteks Jawa Barat, kesalahan nakhoda daerah bermanifestasi pada terputusnya relasi strategis antara partai dengan para ulama, tokoh adat/masyarakat adat kesundaan, pemuda, dan basis massa tradisional. Jawa Barat membutuhkan pemimpin partai yang memahami undak usuk dan kearifan lokal (pribumisasi politik). Pemimpin yang elitis dan arogan, salah merumuskan kebijakan lokal, serta gagal membaca ritme psikologis warga Jawa Barat hanya akan menghasilkan kader yang gagal faham. Pengaruhnya tentu pada elektabilitas partai yang meluncur terjun, simpati publik menurun, dan keterlibatan masyarakat simpatisan, kader maupun pengurus struktural yang minim karena tertutup abu kekecewaan.
Kondisi tersebut tentu saja jangan sampai dibiarkan, pimpinan partai yang berwenang harus turun merespon dan menanganinya dengan serius, mengapa masyarakat simpatisan, loyalis, kader maupun pengurus struktural nir simpati dan enggan berpartisipasi. Jika sampai terjadi pembiaran, maka partai harus siap menanggung konsekuensi elektabilitas yang anjlok dan terjun bebas saat pemilu.
Ketiga: Fase Erupsi dan Tsunami
Fase ini merupakan aktivitas gunung berapi yang dikenal sebagai tsunami vulkanik. Fenomena ini terjadi ketika fase erupsi memicu perpindahan massa air laut secara mendadak dalam skala besar.
Jika gejala ini dianalogikan pada kondisi partai maka kita bisa melihat bahwa pada kondisi ini sedang terjadi perpindahan kader atupun simpatisan, loyalis, eksodus/ pindah partai dalam jumlah yang banyak karena perpindahannya tidak hanya satu orang, tetapi satu gerbong dibawa semua. Jika hal ini terus terjadi dan diabaikan, apalagi yang eksodus adalah para penyandang kader utama, maka dapat dibayangkan banyak simpatisan dan kader yang akan kabur sehigga berpotensi mengakibatkan lumpuhnya mesin partai di dapil strategis dan kekalahan masal di basis suara.
Hal yang paling riskan yang dapat memicu eksodus masal bisa jadi saat kesalahan fatal dalam menunjuk pemimpin daerah di Jawa Barat. Peristiwa ini bisa jadi adalah erupsi/letusan utama, yakni ambrolnya tubuh gunung ke dalam laut yang memicu tsunami politik yang dahsyat.
Ketika hari pemungutan suara tiba, akumulasi ketidakpuasan internal dan keterasingan konstituen mengerucut pada wujud hukuman elektoral. Partai tidak dipilih lagi oleh maasyarakat simpatisan maupun loyalis dan kadernya. Partai sangat berpotensi mengalami penyusutan perolehan kursi legislatif secara drastis baik untuk Pusat, Provinsi maupun Kabupaten/Kota se-Jawa Barat. Kehilangan basis utama di Jawa Barat bukan sekadar penurunan angka, melainkan ancaman eksistensial yang pasti akan mengikis habis daya tawar partai dan melenyapkan pengaruh politik secara signifikan di tingkat nasional. Jawa Barat adalah barometer politik nasional dengan jumlah pemilih terbesar di Indonesia. Kesalahan mengelola partai di wilayah ini bukan sekadar berpotensi pada kekalahan lokal, melainkan ancaman langsung bagi posisi partai secara nasional.
Dari deskripsi ketiga fase tersebut, bisa diketahui saat ini posisi partai berada difase yang mana. Adakah yang masuk ke dalam salah satu fase tersebut? Jika banyak berita muncul di berita online ataupun media sosial mengenai banyaknya kader yang hengkang pindah partai, maka ini seharusnya dapat direspon oleh pimpinan partai yang bersangkutan. Segera mengevaluasi diri dan memperbaiki celah kekurangan dan kelemahan rasanya merupakan hal yang bijak untuk dilakukan, bukan membiarkan berlarut-larut sampai terjadi eksodus masal.
Penutup
Fenomena letusan Anak Gunung Krakatau mengajarkan satu hal penting kepada kita bahwa gejala akan terjadinya erupsi pada gunung berapi sejatinya ternyata hampir sama dengan gejala erupsi pada partai politik. Jika gunung Krakatau dulu bisa kehilangan puncak dan tubuhnya akibat erupsi, begitupun partai politik bisa kehilangan eksistensi sama sekali jika erupsi trust, simpati dan elektabilitas benar-benar terjadi.
Bagi pemangku kebijakan partai di Jawa Barat, jika menemukan gejala erupsi serupa pada partai, maka segera siapkan mitigasinya. Sikap arogan dan otoriter dari pimpinan rasanya tidak akan pernah cocok untuk diterapkan dalam berpartai. Sebaliknya merajut tata kelola partai yang inklusif dan akomodatif dengan mendengar detak jantung kader di bawah adalah bentuk mitigasi efektif untuk mencegah”letusan kekecewaan dari pengurus, kader, simpatisan, dan loyalis” yang berpotensi menghilangkan eksistensi partai dimanapun berada.
Bisa harmonis dengan alam dan terwujudnya sistem mitigasi bencana yang tangguh sedari dini adalah harapan semua agar tidak menimbulkan korban. Begitupun dalam berpartai, bisa harmonis satu sama lain akan mendorong terwujudnya tatanan politik yang teduh dimana semua pemangku kepentingan bisa berkolaborasi secara dewasa dan bijak, terutama dalam menyikapi perbedaan yang ada sehingga akan melahirkan kondisi yang stabil.
Semoga bermanfaat untuk alam dan Jawa Barat.
*_Penulis adalah anggota Kaukus Ketokohan Jawa Barat dan Ketua DPRD Jawa Barat Periode 2009-2014_













