Ada satu nama yang perjalanan hidupnya sulit untuk tidak membuat kita berhenti sejenak dan merenung yaitu Dr. (HC) Oesman Sapta Odang. Atau lebih akrab dipanggil OSO.
Ia bukan produk sekolah elite, bukan pula anak pejabat yang terlahir dengan koneksi mewah. OSO adalah anak pelabuhan — dalam arti yang paling harfiah. Ia pernah memikul barang di Pelabuhan Pontianak demi beberapa rupiah, berjualan rokok asongan di usia belia, dan tumbuh besar di tengah keterbatasan yang bagi banyak orang sudah cukup untuk menjadi alasan menyerah.
Namun hari ini, nama OSO terpatri dalam sejarah politik dan ekonomi Indonesia.
Lahir di Sukadana, Diasah oleh Kerasnya Hidup
OSO lahir pada 18 Agustus 1950 di Sukadana, Kalimantan Barat. Ayahnya, Odang, berasal dari Palopo, Sulawesi Selatan. Ibunya, Asnah Hamid, adalah perempuan berdarah Minang dari Sulit Air, Solok. Perpaduan darah dua tradisi yang sama-sama terkenal dengan semangat merantau dan berdagang.







