NURANIMEDIA.ID, Bandung – Saham perusahaan teknologi semikonduktor Amerika Serikat mengalami tekanan setelah pertemuan Presiden AS dengan Presiden China di Beijing pada 14–15 Mei 2026 dinilai tidak menghasilkan terobosan berarti.
Sejumlah media internasional seperti The Wall Street Journal dan BBC melaporkan bahwa pembahasan terkait ekspor chip dan teknologi kecerdasan buatan (AI) berakhir tanpa kesepakatan konkret. Pasar merespons negatif kondisi tersebut. Saham tercatat turun 4,42 persen pada penutupan perdagangan Jumat. Penurunan juga terjadi pada saham , , dan sejumlah perusahaan chip lainnya.
Trump diketahui datang ke Beijing bersama sejumlah tokoh besar industri teknologi Amerika, termasuk CEO Jensen Huang, CEO Tim Cook, hingga . Kehadiran mereka menunjukkan besarnya kepentingan bisnis Silicon Valley agar akses pasar China kembali terbuka.
Awal Mula Konflik Chip
Ketegangan bermula sejak Oktober 2022 ketika pemerintahan Presiden melarang ekspor chip canggih ke China. Kebijakan itu diambil setelah Washington menilai teknologi semikonduktor buatan AS digunakan untuk memperkuat sistem pertahanan China.





