NURANIMEDIA.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah kini mendekati Rp17.500 per dolar Amerika Serikat. Kondisi itu memicu kekhawatiran pelaku pasar dan investor.
Menurut Listya, penguatan dolar AS masih menjadi faktor utama tekanan terhadap rupiah. Kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve menarik arus modal global kembali ke Amerika Serikat.
“Investor memilih instrumen berbasis dolar karena dianggap lebih aman dan menguntungkan,” ujar Listya.
Ia menjelaskan, ketegangan geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia memperburuk tekanan pasar keuangan global.
Situasi itu memicu fenomena flight to quality. Investor memindahkan dana dari negara berkembang ke aset aman seperti dolar AS.
Namun, Listya menilai faktor global bukan satu-satunya penyebab pelemahan rupiah. Pasar juga menilai kekuatan fundamental ekonomi Indonesia.










