Ia menilai lonjakan anggaran itu memberi dorongan kuat terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, Ferry menyebut klaim pemerintah yang menonjolkan konsumsi masyarakat sebagai penggerak utama ekonomi tidak sepenuhnya akurat.
Menurut Ferry, jika belanja pemerintah hanya tumbuh sesuai rata-rata historis 4,8 persen, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia kemungkinan turun menjadi sekitar 4,63 persen.
“Angka 4,63 persen tentu relatif rendah untuk target nasional,” tulis Ferry dalam analisanya.
Ia juga menyoroti efek berantai dari belanja pemerintah terhadap konsumsi masyarakat dan sektor ekonomi lainnya. Menurut Ferry, suntikan anggaran negara ikut menggerakkan aktivitas ekonomi secara luas.
Perdebatan tersebut kini menarik perhatian publik di tengah tantangan ekonomi global dan tekanan terhadap daya beli masyarakat. Banyak pihak mulai mempertanyakan seberapa besar ketergantungan pertumbuhan ekonomi Indonesia terhadap pengeluaran pemerintah.










