Pengabdiannya di NU ditempuh dari bawah, dengan sabar dan tekun. Dimulai sebagai Rais Syuriyah PCNU Garut, kemudian naik menjadi Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat sejak 2016, hingga akhirnya dipercaya sebagai Mustasyar PBNU — posisi penasihat tertinggi dalam struktur Nahdlatul Ulama.
Dalam ceramah-ceramahnya, beliau kerap mengingatkan tentang hakikat amanah. Kisah Khalid bin Walid yang menerima pencopotan dari jabatan panglima dengan lapang dada menjadi salah satu cerita yang sering ia hadirkan, disertai pesan yang terukir sederhana: jangan pernah nepak dada ketika berhasil menjalankan amanah. Jabatan bukan mahkota. Ia adalah tanggung jawab yang suatu saat harus dikembalikan.
Menjelang Muktamar ke-35 yang dijadwalkan 1–5 Agustus 2026, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf secara khusus sowan ke kediaman beliau di Cisurupan pada 1 Mei 2026. Sebuah isyarat tentang bobotnya dalam peta keulamaan nasional.
Masuknya KH Nuh Addawami ke dalam jajaran AHWA bukan sekadar pengakuan terhadap seorang pribadi. Ia adalah pengakuan terhadap tradisi pesantren Garut, kekayaan intelektual ulama Sunda, dan kontribusi nyata masyarakat Priangan bagi Nahdlatul Ulama.
Dari sebuah kampung di kaki Gunung Papandayan, seorang kiai membuktikan bahwa pengaruh sejati tidak selalu lahir dari pusat kekuasaan. Ia tumbuh dari ketulusan mengajar, ketekunan menulis, dan kerendahan hati yang tak berpura-pura.












