Karya-karyanya menyentuh berbagai tema: tauhid, ushul fiqih, ilmu bayan, tradisi amaliah NU, pendidikan karakter, hingga tasawuf praktis. Di antaranya yang dikenal luas adalah Mustika Akidah: Widuri Pamanggih, Tauhid Praktis ala Thariqah Ahli Sunah wal-Jamaah, Tauhid Amaly Ahlu Sunah wal-Jamaah, Karakteristik Ahlu Sunah wal-Jamaah, Bentang Salapan, hingga Al-Mukhtashar fi Tauhidy wa-Ta’biruhu bil-Adzkari. NU Online mencatat karya beliau telah mencapai puluhan judul.
Beliau menulis dalam tiga bahasa: Sunda, Indonesia, dan Arab, dengan aksara Latin maupun Arab Pegon, dalam bentuk prosa naratif maupun syair. Bahasa Sunda mendominasi bukan karena keterbatasan, melainkan karena pilihan yang sadar — agar dakwah benar-benar sampai ke jantung masyarakat, sekaligus ikut merawat kelestarian bahasa ibu.
Kecintaannya kepada Nahdlatul Ulama bahkan tercermin dari hal-hal kecil yang bermakna. Para santrinya kerap menuliskan namanya dengan huruf kapital pada dua huruf pertama: NUh Addawami — cara sederhana untuk menegaskan bahwa nama dan jiwa sang kiai tak terpisahkan dari organisasi yang ia cintai.













