Selesai mengembara, beliau pulang ke tanah kelahiran. Bukan untuk beristirahat, melainkan untuk membangun. Pada tahun 1968, di Kampung Cibojong, Desa Balewangi, Kecamatan Cisurupan, lahirlah Pondok Pesantren Nurul Huda. Pesantren khalaf yang sejak awal membuka pintunya lebar-lebar bagi anak-anak dari keluarga sederhana di kaki Gunung Papandayan.
Dari pesantren itulah seluruh pengabdiannya berakar. Santri datang silih berganti. Madrasah Tsanawiyah berdiri pada 1992, disusul Madrasah Aliyah. Nurul Huda tumbuh bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai pusat peradaban kecil yang terus berdenyut hingga hari ini.
Yang membedakan KH Nuh Addawami dari banyak kiai seangkatannya adalah hasratnya yang tak padam terhadap dunia tulis-menulis. Kalangan Nahdliyin di Jawa Barat mengenalnya dengan julukan Ajengan bil-Kalam wal-Qalam — ulama yang berdakwah lewat lisan sekaligus pena.
Kebiasaan menulis itu bermula dari sebuah dorongan sederhana. Ketika beliau dipercaya menjadi Rais Syuriyah PCNU Garut pada 1993, seorang sastrawan Sunda yang saat itu menjabat Ketua PCNU Garut, Enas Mabarti, terpikat oleh ceramah-ceramahnya yang bernas. Enas mengusulkan agar isi ceramah itu dituliskan. Sejak saat itulah, pena Ceng Nuh tak pernah benar-benar berhenti bergerak.













