NURANIMEDIA.ID, Bandung – Rupiah menyentuh Rp17.874 per dolar AS dalam perdagangan spot 29 Mei 2026. Angka tersebut adalah rekor terburuk sepanjang sejarah rupiah, tercatat di penghujung Mei 2026.
Sesungguhnya ekonomi kita tumbuh 5,61 persen di kuartal pertama, salah satu terbaik di G20. Tapi rupiah justru jadi mata uang dengan pelemahan terburuk di Asia bulan ini. Bahkan ketika kabar gencatan senjata AS-Iran membuat mata uang Asia lain menguat serentak.
Penyebabnya berlapis. Dari luar, harga minyak sempat menembus seratus dolar per barel akibat ketegangan Timur Tengah, membuat investor global lari ke dolar. Suku bunga Amerika yang tetap tinggi membuat modal betah di sana.
Dari dalam, kebutuhan dolar melonjak untuk bayar utang luar negeri, kirim dividen ke luar, dan membiayai bahan baku impor yang mencapai tujuh puluh persen dari kebutuhan industri kita. Semua itu datang bersamaan.
Pemerintah melakukan intervensi pasar obligasi dua triliun rupiah per hari. Bank Indonesia masuk di tiga pasar sekaligus, spekulasi valas dibatasi untuk mengendalikan rupiah. Akan tetapi langkah-langkah itu dinilai belum bisa menghentikan krisis.













