Oleh Abdul Holik, MA. Ketua PCKMNU Kota Bandung
Dalam daftar Masyayikh dan Ulama Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 Tahun 2026, terdapat satu nama yang menjadi kebanggaan masyarakat Garut: KH Muhammad Nuh Addawami. Sosok yang akrab disapa Ceng Nuh ini bukan sekadar ulama kharismatik. Ia adalah intelektual pesantren, penulis produktif, dan penjaga sanad keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah dari tanah Priangan.
KH Muhammad Nuh Addawami lahir di Garut pada tahun 1946. Sejak usia dua belas tahun, ia sudah berani meninggalkan kampung untuk menuntut ilmu. Satu per satu pesantren di Jawa Barat ia singgahi: Kubang, Munjul, Sadang, dan Al-Huda di Garut, kemudian Cikalama di Sumedang, lalu Cibeureum dan Cilendek di Tasikmalaya.
Di antara semua pesantren yang ia masuki, Pesantren Al-Huda Garut di bawah asuhan KH Syirojuddin — yang dikenal sebagai Mama Siroj — menjadi tempat beliau menancapkan akar paling dalam. Di sanalah ilmu tidak sekadar dihafal, tetapi dihayati hingga menjadi karakter.













