Kebutuhan desa tidak pernah sederhana. Di banyak wilayah, jalan lingkungan masih berlubang, sistem irigasi masih bocor di sana-sini, akses sanitasi layak masih menjadi kemewahan, dan fasilitas kesehatan dasar belum merata. Ketika Dana Desa harus dipotong untuk modal koperasi, pertanyaannya bukan soal prioritas mana yang lebih penting, melainkan apakah keduanya bisa berjalan bersamaan dengan anggaran yang sama.
Ada juga pertanyaan yang lebih mendasar dan sering luput dari diskusi kebijakan: apakah desa-desa kita benar-benar siap mengelola koperasi berskala besar?
Sejarah koperasi di Indonesia bukan tanpa pelajaran pahit. Banyak koperasi yang pernah hadir dengan semangat besar, didukung modal yang cukup, tapi kemudian perlahan-lahan mati suri. Bukan karena kekurangan uang, melainkan karena manajemen yang lemah, pengawasan yang longgar, dan anggota yang akhirnya lebih banyak diam daripada terlibat. Koperasi yang baik di atas kertas tapi kosong dalam praktik bukan hal baru di negeri ini.















