Jika kesiapan itu belum ada, suntikan dana besar justru bisa menjadi beban. Kopdes yang terbentuk karena tekanan program, bukan karena kebutuhan organik komunitas, berpotensi ada secara formal, tapi tidak memberi dampak apa-apa bagi orang-orang yang seharusnya diuntungkan.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah pergeseran paradigma yang mungkin sedang berlangsung diam-diam. Semangat awal Dana Desa adalah desentralisasi yang sungguh-sungguh: memberi desa keleluasaan menentukan apa yang paling dibutuhkan warganya. Ketika pemerintah pusat menetapkan program tertentu sebagai prioritas utama penggunaan Dana Desa, ruang itu menyempit. Desa berisiko kembali menjadi pelaksana agenda nasional, bukan subjek pembangunannya sendiri.
Padahal, tidak ada satu template pembangunan yang cocok untuk semua desa. Desa agraris di Jawa Tengah punya logika yang berbeda dengan desa nelayan di Maluku atau desa wisata di Bali. Keberagaman itulah yang justru menjadi kekuatan sistem Dana Desa sejak awal.















