Kopdes tidak harus ditolak. Bila dirancang dengan serius koperasi bisa menjadi tulang punggung ekonomi lokal yang riil. Ia bisa mempersingkat rantai distribusi, memperkuat posisi tawar petani dan nelayan, membuka akses permodalan yang selama ini sulit dijangkau. Potensinya nyata.
Tapi potensi itu hanya bisa terwujud jika pembentukan Kopdes tidak mengorbankan hal-hal yang sudah berjalan. Infrastruktur yang sedang dibangun, program ketahanan pangan yang baru menemukan ritme, layanan sosial untuk kelompok rentan membutuhkan kesinambungan, bukan penundaan karena anggaran tiba-tiba dialihkan.
Ukuran keberhasilan Kopdes seharusnya bukan berapa ribu koperasi yang berhasil berdiri atau berapa triliun rupiah yang terserap. Ukuran yang lebih jujur adalah: apakah pendapatan warga desa nyata-nyata meningkat? Dan apakah desa masih punya cukup sumber daya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya yang lain?
Pertanyaan itulah yang perlu dijawab sebelum program ini sepenuhnya berjalan. Desa bukan ruang kosong yang bisa diisi program dari atas begitu saja. Desa adalah tempat orang-orang hidup, bekerja, tua, dan merawat anak-anak mereka. Kebijakan yang baik seharusnya memperkuat kapasitas desa, bukan memindahkan sumber dayanya dari satu kebutuhan ke kebutuhan lain yang belum tentu lebih mendesak.















