Inilah yang terjadi ketika sebuah bangsa benar-benar menjiwai Pancasilanya. Sila Kemanusiaan dimaknai menjadi kepekaan yang hidup, yang membuat seseorang tidak bisa berpaling ketika ada yang dizalimi meskipun yang dizalimi bukan dari golongannya. Sila Persatuan bukan sekadar slogan bhinneka tunggal ika, melainkan menjadi ketidaknyamanan yang sungguh-sungguh dirasakan setiap kali ada yang diadu domba atas nama perbedaan. Sila Keadilan Sosial bukan sekadar cita-cita, melainkan menjadi empati yang tidak membiarkan hati tenang selama masih ada yang tidur di bawah kolong jembatan sementara uang negara digelapkan.
Bangsa yang menjiwai Pancasila tidak perlu diingatkan untuk berlaku adil. Ia merasa sakit ketika berlaku tidak adil.
Itulah bedanya. Itulah jaraknya dari di mana kita berdiri sekarang.
Paradoks Pancasila
Kita hidup di zaman yang aneh dalam relasinya dengan Pancasila. Ideologi Pancasila dibicarakan di mana-mana, dibela oleh banyak pihak, dilembagakan dengan serius oleh negara. Tapi bersamaan dengan itu, belum pernah juga nilai-nilainya terasa sejauh ini dari kehidupan sehari-hari.
Yang terjadi adalah paradoks yang menyakitkan: semakin keras Pancasila dikumandangkan, semakin ia terasa seperti baju yang dipakai di hari raya lalu disimpan kembali.
Generasi muda kita merasakan ini. Mereka tahu. Mereka melihat jarak antara yang diucapkan dan yang dijalankan. Ketika jarak itu terlalu lebar terlalu lama, yang mati bukan Pancasilanya, melainkan kepercayaan bahwa hidup bermartabat sesuai nilai itu mungkin tak bisa dilakukan di negeri ini.
Itulah kehilangan yang sesungguhnya. Bukan kehilangan teks. Kehilangan kepercayaan bahwa teks itu bisa menjadi nyata.
Membangkitkan jiwa Pancasila
Maka apa yang harus kita bangkitkan?
Bukan semangat kolektif yang besar dan riuh. Justru sebaliknya, yang perlu dibangkitkan adalah keheningan yang jujur, di mana seseorang duduk dengan dirinya sendiri dan bertanya: sudahkah nilai-nilai ini sungguh-sungguh hidup di dalam diriku? Apakah keadilanku hanya berlaku untuk yang dekat denganku? Apakah kemanuisaanku berhenti di batas suku dan agamaku? Apakah persatuanku hanya retorika ketika situasinya menguntungkan?














