Konflik antara AS, Israel, dan Iran meningkat setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan operasi militer gabungan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut memicu aksi balasan Teheran di berbagai kawasan Timur Tengah.
Situasi memanas ketika Iran menutup Selat Hormuz untuk sebagian besar aktivitas pelayaran internasional, yang berdampak pada lonjakan harga energi global. Ketegangan mulai mereda setelah gencatan senjata tercapai pada 8 April lalu.
Hingga kini, rincian lengkap kesepakatan damai AS-Iran belum dipublikasikan. Namun, Trump menyebut Iran akan berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Sebagai bagian dari perjanjian, Amerika Serikat disebut akan mengurangi dan menghancurkan persediaan uranium yang telah diperkaya milik Republik Islam Iran.
Kesepakatan tersebut dipandang sebagai langkah penting untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah. Namun, kritik dari sejumlah tokoh Israel menunjukkan bahwa perjanjian ini masih menyisakan perdebatan mengenai dampaknya terhadap keamanan dan kepentingan strategis Israel di kawasan.















