Menurut BEM Bersatu, fakta-fakta tersebut tidak bisa dipandang sebagai kebetulan semata dan perlu menjadi perhatian publik agar gerakan mahasiswa tidak kehilangan independensinya.
BEM Bersatu juga menyinggung keterlibatan sejumlah tokoh dalam Dialog Nasional Kebangsaan di Bandung yang dihadiri Tiyo Ardianto bersama sejumlah figur publik. Mereka menilai adanya pola jejaring yang patut dicermati lebih lanjut.
“Keterkaitan berbagai pihak dalam sejumlah forum dan aktivitas yang sama menunjukkan adanya jejaring yang layak mendapat perhatian serius. Gerakan mahasiswa tidak boleh dijadikan kendaraan untuk agenda perebutan pengaruh politik,” ujar Rahmat.
Atas dasar itu, BEM Bersatu menegaskan penolakan terhadap segala bentuk intervensi eksternal yang berpotensi mencederai independensi gerakan mahasiswa.
“Gerakan mahasiswa harus tetap menjadi suara moral rakyat, bukan alat kepentingan elite politik. Kami menolak segala bentuk penunggangan gerakan mahasiswa demi kepentingan kekuasaan,” tegas Rahmat.















