Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal SASI menemukan bahwa lemahnya sistem kaderisasi menyebabkan munculnya pola rekrutmen yang oligarkis dan ketergantungan pada figur tertentu. Kondisi ini pada akhirnya menghambat proses regenerasi dan memperlemah kelembagaan partai politik.
Demokrasi membutuhkan partai yang kuat. Partai yang kuat membutuhkan kader yang berkualitas. Dan kader yang berkualitas hanya dapat lahir melalui proses kaderisasi yang berkelanjutan.
Karena itu, kaderisasi tidak boleh dipahami sebatas kegiatan pelatihan atau pendidikan politik yang bersifat seremonial. Kaderisasi harus menjadi budaya organisasi. Ia harus hadir dalam setiap aktivitas partai, mulai dari proses rekrutmen anggota, pendidikan politik, pendampingan kader, pemberian ruang kepemimpinan, hingga evaluasi kinerja organisasi.
Dalam konteks HANURA, kaderisasi idealnya tidak hanya berorientasi pada kebutuhan elektoral lima tahunan. Lebih dari itu, kaderisasi harus diarahkan untuk membangun kepemimpinan politik yang memiliki integritas, kapasitas, loyalitas, dan sensitivitas sosial terhadap persoalan rakyat.















