Perkembangan tersebut memicu berbagai analisis mengenai lahirnya poros kekuatan baru di Timur Tengah. Peneliti European Council on Foreign Relations, Cinzia Bianco, menilai tatanan lama di kawasan Teluk mulai memudar dan berganti dengan konfigurasi geopolitik baru.
Sementara itu, Marcus Schneider dari Friedrich Ebert Foundation menyebut kemunculan dua blok utama di kawasan. Blok pertama terdiri dari Israel dan UEA yang memiliki visi geopolitik agresif serta ambisi membentuk ulang kawasan Timur Tengah.
Menurut Schneider, Israel dan UEA sama-sama menjalankan politik disrupsi demi memperluas pengaruh regional. Netanyahu bahkan beberapa kali menegaskan Israel tengah “mengubah wajah Timur Tengah” setelah konflik besar dengan Iran pecah awal tahun ini.
Selain kekuatan militer, hubungan Israel dan UEA juga ditopang kepentingan ekonomi dan teknologi. UEA dinilai membutuhkan akses terhadap teknologi pertahanan, jaringan global, dan pengaruh internasional yang dimiliki Israel.















