Namun berbeda dengan UEA, Arab Saudi justru mengambil jalur lebih hati-hati. Riyadh kini lebih fokus menjaga stabilitas demi mempertahankan target ekonomi jangka panjang dan menghindari konflik terbuka di kawasan.
Mantan Kepala Intelijen Saudi, Pangeran Turki al-Faisal, bahkan memperingatkan risiko dominasi Israel di Timur Tengah apabila perang dengan Iran terus meluas. Ia menilai konflik regional hanya akan memperbesar pengaruh Israel di kawasan.
Selain itu, hubungan UEA dan Arab Saudi juga mulai menunjukkan perbedaan arah kebijakan. Abu Dhabi dinilai lebih agresif dalam manuver geopolitik, sedangkan Riyadh memilih pendekatan pragmatis dan transaksional.
Meski demikian, sejumlah analis menilai aliansi di Timur Tengah saat ini tidak lagi bersifat permanen. Negara-negara kawasan disebut lebih fleksibel dalam membangun hubungan demi menjaga kepentingan nasional masing-masing.
Profesor Universitas Duisburg-Essen, Ibrahim Ozturk, menilai negara-negara Teluk sebenarnya sedang berupaya bertahan di tengah situasi kawasan yang sangat tidak stabil. Menurutnya, mereka tidak sekadar memilih kubu, tetapi mencari strategi bertahan dalam dinamika global yang terus berubah.















