Meski demikian, sejumlah analis menilai aliansi di Timur Tengah saat ini tidak lagi bersifat permanen. Negara-negara kawasan disebut lebih fleksibel dalam membangun hubungan demi menjaga kepentingan nasional masing-masing.
Profesor Universitas Duisburg-Essen, Ibrahim Ozturk, menilai negara-negara Teluk sebenarnya sedang berupaya bertahan di tengah situasi kawasan yang sangat tidak stabil. Menurutnya, mereka tidak sekadar memilih kubu, tetapi mencari strategi bertahan dalam dinamika global yang terus berubah.
Analis lain juga mengingatkan bahwa aliansi Israel-UEA tetap memiliki keterbatasan. Meski UEA memiliki kekuatan finansial besar, negara itu dinilai belum mempunyai kedalaman strategis seperti Arab Saudi atau Turki.
Di dalam negeri UEA sendiri, muncul perbedaan orientasi antara Abu Dhabi yang cenderung militeristik dan Dubai yang lebih mengutamakan stabilitas ekonomi serta bisnis regional.

















