Tapi takdir berkata lain lebih awal dari yang seharusnya. Saat OSO baru menginjak usia delapan tahun , sang ayah wafat. Ibunya, seorang penjahit, harus berjuang seorang diri menghidupi keluarga. OSO kecil tidak tinggal diam — ia turun tangan, berjualan rokok asongan di pelabuhan, hingga di usia 14 tahun sudah menjadi kuli pikul.
Konsekuensinya tak terelakkan: pendidikan formal OSO terputus-putus. Ia akhirnya menyelesaikan jenjang SMA melalui ijazah Paket C — bukan melalui bangku sekolah biasa. Namun justru dari sinilah karakter otodidaknya terbentuk. Sebuah karakter yang kelak diakui dunia dengan penganugerahan gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Senior University International, Amerika Serikat, pada tahun 1999.
Membangun OSO Group dari Nol







