Example 728x250
Opini

Saat Sampah Bukan Sekadar Sampah: Belajar dari Sanghyang Siksa Kandang Karesian

×

Saat Sampah Bukan Sekadar Sampah: Belajar dari Sanghyang Siksa Kandang Karesian

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Di tengah krisis lingkungan saat ini, pendekatan tersebut layak dihidupkan kembali. Edukasi pengelolaan sampah tidak cukup dilakukan melalui baliho atau kampanye sesaat. Yang dibutuhkan adalah gerakan komunitas yang melibatkan warga secara aktif.

Lebih menarik lagi, penulis naskah menunjukkan kerendahan hati melalui ungkapan “kurang tambahkan, lebih kurangi”. Kalimat sederhana ini mengandung prinsip yang sangat modern: keterbukaan terhadap evaluasi dan perbaikan.

Baca Juga  Menjaga Nyala Perjuangan: Kaderisasi dan Regenerasi sebagai Jantung Kehidupan Partai HANURA

Dalam pengelolaan lingkungan, tidak ada kebijakan yang sempurna. Program yang gagal perlu diperbaiki. Inovasi yang berhasil perlu dikembangkan. Warga harus diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman dan gagasannya.

Menemukan Masa Depan di Akar Budaya

Sering kali kita menganggap solusi masa depan harus datang dari teknologi terbaru. Padahal, banyak jawaban sesungguhnya tersimpan dalam kebijaksanaan masa lalu.

Baca Juga  OSO, GEBU Minang, dan Jalan Kebudayaan Ekonomi Perantau

Sanghyang Siksa Kandang Karesian mengingatkan bahwa keberlanjutan lingkungan tidak dimulai dari mesin-mesin canggih, melainkan dari karakter manusia yang menghormati alam. Sampah menjadi persoalan besar bukan karena kita kekurangan teknologi, tetapi karena kita kehilangan kesadaran bahwa bumi adalah ruang hidup bersama yang harus dijaga.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *