Dalam pengertian itu, logo baru Hanura bisa dipandang sebagai sebuah cermin.
Singa yang tenang dan terukur, warna kuning emas yang tidak berseru tapi bersinar, huruf yang tidak berdiri sendiri tapi menyatu dalam tubuh yang lebih besar menyerupai bentuk hati. Semua itu adalah cara Hanura menatap bayangannya sendiri dan berkata: Beginilah kami ingin menjadi.
Tapi cermin hanya menampilkan gambaran. Yang menentukan apakah gambaran itu jujur atau tidak adalah keberanian pemilik gambar itu untuk sungguh-sungguh melihat lebih dalam, termasuk melihat retak-retak yang selama ini mungkin sengaja dihindari.
Hati Nurani dan Paradoks Kekuasaan
Saya sudah lama bergulat dengan satu paradoks yang melekat pada nama partai ini.
Hati nurani adalah konsep yang paling tidak nyaman dalam politik. Filsuf Jerman Immanuel Kant menyebut Hati Nurani sebagai suara moral yang tidak bisa dibungkam. Nurani berbicara bukan ketika diundang, melainkan justru ketika paling tidak dikehendaki. Di tengah rapat koalisi; Di balik pintu tertutup; Di momen ketika kalkulasi kekuasaan dan kebenaran sedang berhadap-hadapan.

















